Senin, 21 Mei 2012
Ngetik + Dengerin al-Quran = Enak Banget
Hmmmmmmmmmm.............
Usai sudah, ibarat Office Boy, habis bersih-bersih kantor, ya leyeh-leyeh, dari atasan pesen "dead line tanggal 25, kamu harus bisa nyelesaiin, kalo bisa ya sebelum 25" (alih bahasa) saya jawab saja "nggih pak...".
Semacam artikel setebal 25 halaman itu sekarang berpindah tangan. klak-klik sana sini, udah bolak-balik akhirnya ya belum selesai, karena anggapan saya tu banyak.
Sabar dulu, masih lama. eit..... bukan menunda, tapi nyantai. Dipertenagahan ngetik saya teringat Muhammad Thoha Murotalis Junior dengan suara merdu, sangat sahdu, begitu indah al-Quran, ketika sekarang menemaniku dalam kesibukan.
Suara mengalun, terdengar lirih ayat-ayat Muhammad, ayat yang menceritakan tentang peperangan dan taktik Nabi Muhammad untuk memerangi kekufuran.
Saya teringat salah satu guru saya mengatakan bahwa sekarang bukan saatnya berperang dengan pedang, melainkan berperang dengan pendidikan, jadi ketika ada yang bodoh dengan ketidak tahuannya, maka kita harus meng'alimkannya, artinya memberi tahu apa yang tidak ia ketahui.
Surah Muhammad terus mengalum menemaniku dalam tugas, cetak-cetik-cetak-cetik, sambil dapat pahala, amiin. sholawat juga bisa, tapi ya pas ngak cocok aja dengan pagi ini.
Bayangkan pagi ini mendung redup, angin sepoy, diiringi alunan al-quran, emmmm.... ngetik jadi enteng.
Selamat Bersibuk ria jangan lupa sambil rengeng-rengeneg murotal ya.. enak banget.
Semoga bermanfaat ya...
Amiinn...
Selasa, 13 April 2010
Senja
Tidak sedikit musisi yang yang melantunkan lagu-lagu dengan bertemakan lagu rindu-menunggu, bahkan dirilis beratus kali dan dinyanyikan beribu kali untuk menyatakan kesiapannya menunggu sesuatu yang diharapkannya mampu memuaskan rasa dahaganya.
Mengapa harus menunggu??
Kita tidak pernah akan bisa hidup dengan tautan belahan tangan
Senin, 17 Agustus 2009
Romadhon Penuh Dosa
Romadhon Selamat Datang I'm Coming I Lop U Pul.
Diluar sana, semuanya mengatakan Romadhon kedatangannya penuh dinanti, Kehadirannya penuh berkah, semuanya mengatakan "Bulan romadhon, Bulan Penuh Berkah".
Subhanallah.....
Ya Allah....
Mengapa itu tidak terjadi pada ku.... apakah aku sangat dosanya....???
Aku mengatakan bahwa "Bulan Romadhon" bulan penuh dosa bagiku.
karena selama itu aku hanya bisa mengumpat pada Tuhanku.
Bayangkan.... Ketikan aku ingin beramal, dengan harta bendaku, aku tidak ada yang damalhan, bahkan keadaanku lebih miskin dari yang seharusnya dikasihani.
Ketika aku ingin beramal dengan kebaikan, aku hanya mampu menggerutu, harus dengan perbuatan baik semacam apa yang akan aku kasihkan, karena tidak ada kebaikan sama sekali untukku dihadapan-Nya, karena aku sangat jauh dari kebaikan.
Dengan sekedar baca al-Quran,,,,?, Masih diterimakah bacaanku... kalau setiap kali aku melupakannya.
Tuhan dengan apa aku harus mendekat kepada-Mu....???
Terimalah, hanya kesabaranku untuk menunggu hidayah-Mu. melapangkan dadaku, melembutkan hatiku, melenturkan ucapanku, melambaikan langkahku yang ku jadikan jembatan untuk mendekatkan pada-Mu.
Ya Allah... Aku merindukan-Mu.
Berilah kesembatan bibir ini untuk mengucapkan "Ya Allah,,, Aku Mencintai-Mu"
Selasa, 28 Juli 2009
Ke 40 hari
Assalamu'alaikum... Semoga Tuhan Melindungi kita.
Untuk temanku semua "maaf" karena aku melangkah dengan berpijak pada indahnya lukisan tangan antum semua.
Semoga kehadiranku tidak membuat semua takut, dan tidak menjadikanku sebagai arwah gentayangan yang menakutkan. Jadikan diriku sebagai daftar sahabat yang selalu merindukan.
40 hari bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilalui, penuh kesabaran dan rasa takut untuk memulai. Aku minta maaf kalau kesabaranku akhirnya terhempas juga.
Kini aku menyapa, sebagai tanda salam jumpa.
Do'akan aku selalu setia, untuk berbagi meraih harapan dengan mimpi, walau miungkin ada
Senin, 15 Juni 2009
Selamat Tinggal Kawan...
Salam pamit dariku
Kawan...
Tak akan ku biarkan air mataku menetes,,, walau berat.
Tak akan ku biarkan jiwaku resah,,, maskipun harus berpisah.
Tak akan ku kecewa,,, walau sejatinya luka.
Aku akan berusaha tersenyum,,, maskipun tertahan.
Aku akan terus menatap,,, maskipun kosong.
Tuhan izinkan aku berpisah pada semua, berucap pamit demi kebahagiaan. Aku rela maskipun Kau melemparkanku ke jurang gelapmu kembali, asal jangan Kau pisahkan aku dengannya yang telah terikat teman didagunya. Demi kata-kataku yang tertunda, izinkan aku berdo'a. Jadikan dia sebagai kekasih-Mu, disisih-Mu yang kau cinta, dengan kata-kata dan sumpah setianya, dengan lantunan dan kasih sayangnya, dengan senyum dan air mata.
Untuk Kawanku yang telah mau singgah. Slifaer (Setan99) maaf,,, ane blm bisa meng-add pic-mu di MyBlogLog, ane hanya bisa katakan trimakasih telah mampir, walau akhirnya dengan penuh sesak harus berpisah. reallylife "semoga jalinan persaudaraan dan silaturahmi ini tidak terputus" maaf kawan, tapi demi persaudaraan aku ucapkan Selamat Tinggal, untukmu, untuk semua yang berkenan singgah di obrolanku. filarbiru, trimakasih, atas semuanya, terimakasih juga telah memasukkan blog-ku, sebagai Blogroll-mu, maskipun kau tidak suka akan kata-kata cintaku, tapi itu bukan mauku, tapi ucap hatiku yang berlalu, mengiringi suasana kepingan hati yang tersisa. Untuk insanmuhamadi aku teringat pada kata-katamu "wah..wah… saya kira ni blognya mbak rindu, ternyata pengagumnya, sampai2 semuanya sama persis. atau jangan2 ini akal-akalannya mbak rindu?? ah, saya terlalu berprasangka..." insan inilah gambaran rindu yang sama, ingin aku menyapa Tuhanku dalam media yang sama, tapi apalah daya, Tuhan pula yang tidak menginjinkanku untuk serupa. Maka sekarang aku minta pamit, demi sebuah talian saudara, agar jangan sampai terputus. Mungkin dengan begini aku bisa melihatnya tersenyum, dengan senyuman tulus dan bahagia, salam selalu dariku bila kau menyapa.
Untukmu, deeedeee trimakasih mau mampir, dan akhirnya harus berakhir, do'amu semoga dikabulkan, semoga dirinya segera kembali dari tepiannya, dan menyapa kita dengan penuh cinta, aku pergi untuk sebuah janji. do'akan aku supaya Tuhan mempercayakan kekuatan memenuhi janji kepadaku, aku ikhlas walau dengan derai yang tertahan. Hai sunarnosahlan, kau benar, kadang menangis justru sangat dibutuhkan, aku sekarang merasakannya dan sangat ingin melinangkan airmata, tapi karena janjiku, aku usahakan untuk tidak menetes, demi sebuah rindu. trimakasih engkau yang telah mau menambahi komen-ku. indra, Semoga kau selalu disayang oleh-Nya, inilah do'a singkat dariku, do'a perpisahan dan juga do'a harapan semoga ada jalan untuk Tuhan mempertemukan, biarlah kutahan rindu, untuk rindu yang lain, trimakasih telah mau berbagi. Trimakasih nurrahmanarif, maskaipun kau mengataiku MELO, tapi itu lah salam untukku, itulah yang mampu membuat terlihat garis senyumku, aku lebih suka dikatai orang asal jangan mengatai teman-sahabat-saudaraku, komenmu yang singkat adalah semangat bagiku yang sangat, tapi karena suatu sebab akhirnya aku harus merelakan teman-teman terkasihku, maafkan aku shobat.
Haluuuu, omiyan , andai nasip kita bisa ditukar,,, akan ku tukar dengan nasip yang lebih baik, pun seandainya aku baik, akan ku tukar dengan nasip orang yang lebih membutuhkan, trimakasih, karena kehadiranku, kau telah teringat temanmu, "Rindu" ya, atau Ade, atau Robi'ahku, ah aku hanya asal menebak, aku juga merindukannya, semoga kita dipertemukan walau dalam media yang berbeda, itulah yang menjadi harapan satu-satunya. cantigi, izinkan aku berdialog dengan matahari? bolehkah?. Kini aku ingin mengadu pada matahari, pada rembulan, pada bintang pada semua yang kiranya mau jadi pengaduan. trimakasih udah mau berkunjung. abifasya trimakasih shobat atas bujuknya, atas pintamu untuk tidak menangis, aku tidak akan menangis, aku hanya berpisah demi jiwa yang mengharapkan cinta, izinkan aku bertemu lain waktu, mambujuk kembali untuk tidak menangis, skali lagi trimakasih. Insya Allah aku akan sering mengunjungimu. walau kita tak saling ketemu.
syelviapoe, trimakasih atas engkau mau mengenalku, perkenalan yang akhirnya harus ada perpisahan. Ikutkan aku menemui Rob-mu, dengan kapas rindumu... thepenks, kau benar akhi,, ada senang ada sedih.. semuanya saling beriringan dan saling melengkapi, alangkah indahnya kalau ada yang mau diajak berbagi, aku merindukan disetiap kata yang keluar dari teman-teman setia, tapi kini kerinduan itu harus aku kubur bersama diri yang terluka. Eko Widiyanto, kau menggunggapkan sesuatu yang indah-indah, tiada kata-kata yang indah kecuali sanjungan, tapi sanjungan yang indah hanyalah apabila disandarkan pada sang pemilik keindahan, trimakasih Eko udah mau berkunjung, walau hanya sekejap dan akhirnya kita berpisah. Muhamad Azam, walau sedih untuk kukatakan, tapi aku harus kuat untuk melakukannya. ibarat titah yang harus aku emban. Akhi,, aku tidak akan melupakan kata-katamu, sebuah perkenalan, ikatan persaudaraan, kedamaian dan kehidupan, semua itu terasa indah, dulu yang pernah kau tulis, kini biarlah tinggal kenangan. Aku ucapkan salam untukmu, salam berpisah untuk kehidupan yang lain. Untuk yang terakhir Ojie trimakasih atas engkau telah memberi semangat, sebagai kata pamit aku ingin menyunting kata-katamu "Sebodoh-bodah manusia adalah yang tidak mampu memperoleh kawan-kawan untuk dirinya, namun yang lebih bodoh lagi ialah yang menyebabkan perginya mereka yang telah diperolahnya" semoga kata-katamu, memberi semangat baru dihatiku.
Selamat tinggal Kawan
Usah kau menangis kawan, Aku tidak meninggalkan dunia, karena aku belum siap menemuinya, belum siap untuk merasakan sakitnya pecutan sang Malaikat, sedangkan aku masih berlumuran noda, tetaplah aku didunia untuk menahan sakitnya pecutan jiwa dan rasa yang merindu. Maafkan aku kawan, hanya maaflah, yang mampu mencuci melepaskan noda. Izinkan aku menutup mata, karena dengan demikian aku bisa melihat dosa-dosa dan meminta ampun kepada-Nya.
Kini aku hanya bisa berucap pada suara seruling bambu yang menghilang, mengadukan nasip dan menyeka airmata. Tuhan beri waktu sejenak untukku, untuk menerima perpindahan nasip yang Engkau janjikan, untuk melihat gadis cantik diatas Bus kembali, untuk menunaikan suatu janji, yang sedang Kau ujikan.
Astagfirullah,,, ada yang terlupa, walau aku tak ubahnya debu, aku ingin perpesan satu untukmu "usah kau rendahkan dirimu, walau dihadapan Tuhan karena pasti ada sisi yang mesti dan harusnya disyukuri daripada mencaci mengingkari nasip yang telah diberi.
Sekali lagi aku ucapkan terimakasih untukmu kawan, karena dengan bersyukur kita bisa merasakan nikmat yang lain, untuk teman-teman, sahabat, saudara yang belum sempat menyapa, maafkan aku, karena aku yang belum sempat untuk mengunjungimu. Izinkan aku menyulam rinduku di belahan karya-karya indahmu.
Untukmu perempuan dikebun hikmah, Robi'ahku, juga putri ningrat yang pernah aku kenal, mungkin karenaku engkau menangis, dan kepergianku semoga menjadi salah satu penenang jiwamu, sekali lagi maafkan aku, biarlah aku hanya mendengarkan lantunan ayat-ayat al-Quran yang kau baca atau ikut mendengarkan asmaul husna disetiap deru laju mobilmu, ataupun hanya sekedar mendengarkan suara klakson mobilmu, itu sudah cukup, apalagi mau menambahi senyum, sebagai amal disetiap pagimu untukku. Dan trimakasih, engkau telah mengenalkan Tuhanku, maskipun sekarang harus terancam untuk kembali.
Aku akan selalu mengingat kata-kata mu, dan izinkanlah aku untuk mengucapkannya "Jika kesedihan datang dan duka lara menggunung, ucapkanlah... “La illaha illa ALLAH” Tiada Tuhan selain Allah, Dialah yang Maha Mengambil dan yang akan mengganti, entah kapan, entah sempat merasakan. Dia jugalah yang Maha Memisahkan disetiap pertemuan, juga Maha mempertemukan di setiap perpisahan.
Inilah salam perpisahan dariku, dengan satu harapan - supaya kita dipertemukan, dan janganlah kita saling memutuskan hubungan kekeluargaan, persahabatan, sekanca dan sekawan.
Sudah, Trimakasih,
Salam dariku untuk semua "Rouf tracal"
Sabtu, 13 Juni 2009
Shobat. . . . . . . . . . . Dia Bukan Aku!
Dinginnya malam mengantarkanku terjaga.
Ingiiiin aku mengantarkan pagi nanti dengan senyum dan sambut mesra. Di pagi dingin ini aku ingin mengatakan bahwa DIA bukan AKU, sebagai kata awal permintaan maafku.
Untukmu Shobat,,, izinkan aku memadu kasih lewat media yang sama. Jangan sakiti dia, jangan tuduh dia, jangan katai dia, jangan anggap dia lari dari penepiannya. Aku yang salah karena diriku, aku yang menggaguminya, merindukannya sampai aku gila.
Shobat,,, Aku ingin menguasai dunia, tapi dia ingin menguasai hatinya, dia sebagai Robi'ah dimataku dan al-Adawiyah dihatiku. Tapi aku, hanya sebagai onggokan yang mengganggu.
Shobat,,, Dia mencari cinta-Nya, tapi aku mencuri cinta Dinda. Dia adalah dia, Shobatku. Dia juga tidak menjelma menjadi aku, dia tidaklah aku.
Shobat,,, Izinkan dia menepi, untuk selanjutnya menyambut kalian dengan hati damai, dengan hati yang selembut salju, hati yang kita rindukan.
Maskipun hati ini pedih karena penepiannya, tapi aku ikhlas, ridho, untuk dia menjadi Robi'ah yang agung. Shobat,,, dari hati, sekali lagi aku katakan, "dia adalah dia, dia bukan dan tidak menjelma, apalagi menjadi diriku yang gila", kita sama-sama ingin belaian-Nya, tapi kayaknya aku sudah tidak pantas lagi untuk dibelai, karena aku melalaikan-Nya, waktu Dia [Tuhan] ingin membelaiku. Sekarang aku ingin kembali, aku merindukan-Nya, tapi aku tidak tau jalannya. Aku takut Dia [Tuhan] marah, maka aku beranikan diri untuk menautkan hati ini pada Dinda, untuk sekedar menyapa-Nya dalam media yang sama.
Maafkan aku, Robi'ahku.
Maafkan aku Shobatku. Ini kesekian kalinya aku minta, jangan sakiti dia, karena akulah yang seharusnya disakiti, jangan katai dia, jangan jadikan aku yang dungu sebagai jelmaan Robi'ah yang aku rindu. Izinkan dia menepi, untuk menyapa kita dengan penuh damai.
Inilah aku, diriku, bersama jiwaku yang kosong, yang butuh tautan untuk mencari cinta-Nya.
Shobat ,,, Sampaikan salamku padanya, jika antum semua meluangkan sedikit mata untuk melirik deretan coret berharap makna.
Salam dariku untuk semua, Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya, dan suatu saat kita dipertemukan dalam media yang berbeda.
Kamis, 11 Juni 2009
Usah kau menangis Sayang...
Seribu hati telah merasa kehilangan
Kehilangan senyum dan canda kata, bercanda penuh hikmah dan air mata, penuh cinta dan rindu mesra, Tuhanlah yang mampu menyatukan segalanya, menyatukan hati yang merindukan belaian kata terajut cinta.
Kini juga banyak mata yang merelakan airnya untuk menetes, mengiringi penepiannya, menyambut kebahagiaan yang dicari. Tiada yang tau kapan akhirnya bertemu, hanyalah angan sebagai penyambung harapan, serta jiwa tulus yang mengharapkan ujung penantian. Jangan terlalu lama kau tinggalkan, karena masih banyak jiwa-jiwa tulus yang mengharapkan belaian, karena masih banyak jiwa-jiwa gersang yang menginginkan siraman, maskipun hanyalah Tuhan yang mampu untuk mengembalikan jiwa gersang.
Usah kau menangis Sayang, karena masih banyak do'a yang menginginkanmu tersenyum, mereka semua ingin sapamu, menginginkan atas candamu, menginginkan atas rindumu. Memintakan pada-Nya untukmu tabah, dan sabar atas segara musibah.
Aku yakin kau hanya menepi, bersandar menghilangkan lelah, yang nantinya akan menyambut kami dengan penuh cerah.
"aku akan selalu menunggumu, menunggu sampai dipenghujung asaku…" Aku tidak tau kapan asa itu akan kunjung datang. Bisa besok, nanti bahkan kali ini.
Ucapanmu sangat menyejukkan, kau berucap "terima kasih sudah mau menunggu saya, tapi saya tidak tahu dimana ujung tepi yang saya cari jadi mungkin akan lama pencarian ini terima kasih dengan segala kerendahan hati saya". aku merenung saat kata itu terucap.
"... tapi saya tidak tahu dimana ujung tepi yang saya cari..."
Semoga kamu lekas menemukannya Sayang, menemukan tepi yang penuh dengan Ridho Illahi, bersama senyum dan kasih sayang-Nya. Aku tidak banyak berkata. Aku hanya berdo'a, semoga engkau tidak terlena dan asyik dalam penepian karena-Nya, karena masih banyak yang menginginkan tawa, canda, tangismu untuk menghibur mereka.
Sabtu, 23 Mei 2009
Untukmu perempuan di kebun hikmah
Terukir dari sebuah kata, menginginkan sahabat setia.
Kerinduanmu dibalik kerendahan seorang putri, telah membawaku bergetar saat ingin bertemu. Bukan pertemuan terhadap apa yang kau inginkan tapi pertemuan nyata, bertatap dalam karya.
Dekupan jantung indah menyertai kegersanganku terhadap inginku untuk bertemu, inilah jantungku yang tertahan suara degupnya. menanti belaian dari seorang kasih, bukan Tuhan, tapi hamba yang diciptakan dengan kasih-Nya.
Semoga nafasmu, nafasku, nafas kita ada artinya disisi-Nya, maskipun kadangkala merasa, Tuhan tiada yang mampu dilaku dan dikata. Hanyalah Cinta yang aku rindukan dari-Nya, sebagaimana engkau merindukan belas kasih sayang-Nya. Tidak disini, semoga disana.
Semoga do'amu terkabul, atas do'a kebaikan yang kau pintakan untuk semua orang. Engkau terlalu baik dimataku dengan karyamu. Jangan anggap aku memuja, karena tiada yang pantas untuk dipuja dari seorang hamba sebelum dia memuja tuhan-Nya, bukan juga kamu. maskipun ada rasa kagum untukmu. Biarlah cintaku yang menyertai cintamu untuk selalu menyapa-Nya dengan karya.
Tolong jangan sesadis itu, jangan sampai kata-kataku ini terhapus dari rindumu, karena kata-kataku melebihi sara sara, menghina, mengecam, memojokan, dan menyakitimu. Aku ucapkan selamat datang didunia cintaku, didunia rinduku, dunia yang menginginkan damai kasih.
Salam dariku, Perempuan dikebun hikmah
Jangan Kau Rendahkan Dirimu Walau dihadapan Tuhan
Suatu saat pikiran yang aneh-aneh itu muncul.
Bayangkan ketika seharian bergelut dengan pekerjaan (kalo boleh dikatakan) maskipun sejatinya nganggur, seharian hanya tidur, tapi segala aktifitas harus mengeluarkan uang dan uang, mau kencing saja butuh uang, apalagi belum yang lainnya, semuanya serba uang, tapi yang namanya uang tak kunjung datang. Al hasil semuanya tak kesampaian.
Cinta terbelangkalai, hati teriris oleh cercaan materi ditambah teman sekanca yang tiada lagi mengerti ada ataukah semuanya malah pergi. Pergi ataukah memang tak mungkin lagi kembali. Maskipun demikian tak kurang dari mereka yang masih ada cinta. Apa yang mereka cintai dariku. Hampa...
Diujung Shubuh semuanya teringat, mulai dari aktifitas, yang tak pantas lagi disebut aktifitas. Makan, gurauan, kelana, jalan-jalan sampainya malam nmenjelang bersama sesliweran kelalawar mencari penghidupan. Aku teringat bahwa semua itu hanyalah permainan yang harus aku mainkan dengan sempurna, maskipun kadang harus-bahkan sering mengginkari permainan tersebut.
Diujung Shubuh seusai terkapar dalam malam panjang, bangunpun tanpa sengaja. Aku menengadah dan berbicara menanyakan tentang cinta, tentang cita, harap, air mata, tahta serta sesal yang tiada kan pernah terjawab.
Hanya sesal yang menjelma
Hanya sesal yang bergelayut dalam jiwa
Tiada semangat
Tiada harap
Semuanya sirna, layaknya kabut yang tertiup siang dan malam yang berubah menjadi terang serta kelalawar yanag tiada mampu lagi memandang. Disitu aku teringat pada diriku, membayangkan dan bertanya "benarkah diriku begitu??, benarkah diriku seperti itu??, senista itu??, setiada itu??, atau se.... itu??
Akhirnya aku tertunduk lemas seusai shubuh, bersimpuh, mengajak diskusi jiwa ini. adakah yang salah dengan perjalanan hidupku?, ataukah ada satu rahasia dibalik perjalananku?
Subhanallah...!!!
Alangkah diriku telah jauh dari rasa Syukur, mensyukuri walau hanya seutas jemari yang melambai, nafas dan jangkahan langkah yang terputus. Dari sinilah aku rubah segala jalan hidupku, ingin rasanya aku berkata.
"Ya Allah, trimakasih, Engkau telah memberi rasa cinta untukku, walau rasa cinta itu hanya sebatas mata, tanpa bisa untuk memiliki, ya Allah izinkan aku untuk menikmati pemberian cinta dari-Mu ini", juga aku ingin berkata...
"Ya Allah, terimakasih, Engkau telah memberiku harta, walau tiada yang dibuat pengganjal perus dihari esok. Tapi izinkan aku untuk menerima segala yang Kau beri..."
"Ya Allah, trimakasih, Engkau telah menberi kesempatan untuk mempersiapakan diri dan merasakan nikmat-Mu yang lain yang akan Kau berikan, trimakasih ya Allah, izinkan aku untuk berucap syukur dilain kesempatan".
Itulah, mengapa aku katakan "jangan rendahkan dirimu walau dihadapan Tuhan" karena pasti ada sisi yang mesti dan harusnya disyukuri daripada mencaci mengingkari nasip yang telah diberi.
Pandang kehidupan dari sisi yang lain.
Jangan biarkan diri ini terjerumus lebih dalam yang akhirnya menyesal, tanpa pernah ada kesempatan untuk menebus segala penyesalan.
Selasa, 19 Mei 2009
Izinkan aku menutup mata
Izinkan aku menutup mata, untuk sementara waktu, karena kalau terbuka maka kesombonganku yang akan bicara, keluh kesahku yang merajalela, keangkaramurkaanku yang menguasai jiwa. Aku takut semua itu terjadi, karena aku anggap semuanya itu belum waktunya. Aku manusia, ingin merasakan apa yang mereka rasakan, gembira untuk kemudian berkarya, bahagia untuk kemudia berjaya.
Tolong izinkan aku untuk menutup mulutku, agar aku tidak berdusta, agar aku tidak banyak bicara, agar aku tidak banyak mengeluh, agar aku terlihat setia.
Tolong izinkan aku sejenak, berhenti menikmati hari, untuk meniti kesalahan dihari-hari yan telah terlewati, agar aku tidak terlalu menyeal dan menyalahkan diri dikemudian hari.
Izinkan aku untuk berhias, merapikan diri menyambut pagi, bersama keriangan dan kebahagiaan.
Izinkan aku untuk tersenyum, tersenyum terhadap kemenanganku, atas janji yang aku tepati, atas diri yang aku hargai, atas jiwa yang aku hormati.
Izinkan aku melangkah, menuju-Mu, mencari ridho-Mu bersama terkasih, cinta dan buah hati.
Izinkan aku membaktikan diri, hanya untuk-Mu... hanya untuk-Mu...
Berilah aku kesempatan untuk meminta disaat aku dalam kelalaian, khilaf dan kepura-puraan.
Sementara waktu terus berjalan... Izinkan aku berjalan bersama waktu-Mu yang telah Engkau ciptan.
Tuhan... Izinkan aku untuk menikmati apa yang Engkau berikan.
Senin, 18 Mei 2009
Gadis cantik di atas Bus
Anak kecil dipangkuannya itu menyita perhatianku, anak kecil yang manis, imut, tampan, ingin sekali aku merangkulnya, membelai seolah-olah dia anakku atau adikku. Senyumnya sekali mengambang...
Suatu detik Bis menghentikan tujuannya. Pandanganpun terputus. Detik inilah keinginan itu terwujud, bukan sebagai anak atau adik, tapi hanya sebagai penolong. Menurunkan Gadis cantik dalam Bus.
Sudah cukup rasanya...
Biarlah anak itu hanya bayangan dalam sanubariku... Aku hanya berharap pada Tuhan, karena dengan inilah aku mendekati Tuhan dan ingat pada Tuhan, seandainya Tauhan mau mengabulkan, doaku sama dengan mereka yang dalam kedamaian.
Sabtu, 16 Mei 2009
Beri Sejenak Waktu Untukku
Dalam sebuah kisah atau ketika sebuah kisah itu di tuliskan maka yang terbayang sebelumnya adalah ketakutan. Ketakutan akan hinaan dan tertawaan oleh orang lain. Padahal semuanya itu tidak sepenuhnya benar. Bukan orang lain yang menakutkan, tapi bayangannya sendiri yang membuat diri kita sering lari ketika dihadapkan pada suatu hal yang menjanjikan perubahan, paling tidak mengajak untuk sekedar berbenah.
Jangan takut untuk memulai sesuatu yang baru, karena sesuatu yang dianggap baru itu tidaklah sepenuhnya baru. Mungkin seratus tahun yang lalu telah pernah bahkan mungkin dilakukan orang lain, itu artinya kita tidak ubahnya plagiator nyata "plagiator of life".
Mulai dari sekarang, atau tidak pernah sama sekali untuk bertindak, jangan karena hanya takut dengan bayangan keberhasilan atau kesuksesan, hari-hari yang indah engkau tinggalka. Ingatlah bahwa sesungguhnya hidup adalah apa yang kita rasakan sekarang dan cita-cita dimasa mendatang, bukan dahulu atau kenangan. Biarlah kenangan itu hilang masa silam.
Kini bangkit dan mulaiah untuk mengerjakan atau paling tidak untuk mengatakan "bahwa inilah hariku" hariku untuk menapaki dunia yang lebih baru, dunia yang lebih berharga dari pada emas permata. Mulailah dari sekarang maskipun berkalungkan seribu penderitaan. Bangkitlah dan mulailah, karena kekasihmu disana telah menunggu dengan dengan senyuman dan pelukan cinta, dengan linangan dan harapan bahagia.
Inilah diriku, dilahirkan untuk mengajak, maskipun terkadang diri sendiri terpaku dalam ketidak perdayaan. Kini aku mengajak untuk sama-sama bangun, membuka telapak tangan untuk menerima anugrah dari Tuhan. Dengan ridho dan cinta-Nya, dengan cinta dan ridho-Nya.
Sabtu, 02 Mei 2009
Suara Klakson...
Sungguh mengejutkan, suara klakson itu mengagetkanku. Aku ingin marah karena membuyarkan lamunanku.Sudahlah tak jadi apa...
Suatu saat di persimpangan, seorang Nenek, kesulitan untuk menyebrang, atau mungkin dia tidak tau cara untuk menyebrang. Aku lihat dia mondar-mandir, mondar-mandir. Kesana,,, kesini lagi. Kesini,,, kesana lagi. Tak ada yang tau, dia tidak bicara dan tidak bertanya.
Aku jadi teringat suatu ketika, zaman kerajaan - kalau ngak salah - waktu itu hutan masih lebat,,, tidak seperi sekarang yang mengatakan pernah lebat. Tapi kenyataannya, tidak selebat rambut yang tumbuh sebagai hiasan mata.
Sama keduanya mondar-mandir, kesana,,, kesini. Kesini dan kesana lagi. orang itu akhirnya duduk dan bersandar pada pagar jalan, menatap kosong penuh harap, menerawang jauh menembus batas bumi.
Aku sengaja hanya mengawasinya tanpa kata, hatiku hanya berkata sungguh kasihan... tak lama kemudian Nenek itu berdiri, sekarang langkahnya tidak seperti beberapa waktu yang lalu, Dia lunglai lemas, aku rasakan kerongkongan itu terasa kering. Kasihan,,, panas itu telah memanggangnya, melepuhkan harapannya. Sang Nenek teringat suatu ketika, teringat kata-kata Kakek yang selama ini menemaninya setia "Maafkan aku, aku belum bisa membahagiakanmu" itulah kata terakhir sebelum, sebelum akhirnya meninggalkan untuk selamanya.
Nenek itu berusaha untuk meneteskan air matanya, tapi alangkah sayangnya ketika air mata sebagai penyejuk itu telah tiada, telah kering bersama harapnya untuk bahagia, telah mengering bersama janjinya untuk setia, telah mengering bersama keinginannya untuk bersama.
Suatu hari aku kembali, hanya sekedar melihat-melihat panorama beberapa minggu yang lalu. Mataku terbelalak, jiwaku tersentak melihat kejadian itu, aku hanya bisa melongo. Kasihan... kasihan... Nenek itu mondar-mandir sampi sekarang...
Mungkin akan timbul tanya "Kok ngak ditolong sih...kan sudah tau kalau nenek dalam kebingungan dan butuh bantuan" ...Aku hanya akan jawab dengan senyum kecut... yang mengisyaratkan bahwa "Aku tidak tau bagaimana caranya menolong,,, wong, aku sendiri dalam kebingungan yang sama.
Aku hanya punya satu kata "Syukur" karena aku masih muda, maskipun tidak tau ajal menyapa dulu yang mana...
Biarkanlah...
Mimpi itu telah membuatku sadar bahwa yang selama ini aku lakukan hanyalah sebatas bayangan nyata yang aku lakukan berulang-ulang tanpa ada pemaknaan, tanpa ada kaidah dan tanpa ada faidah.
Aku hanya mengandalkan rel nasip yang aku anggap itu lurus, selurus rel kereta, yang sebenarnya bengkok, tapi kita tidak merasa.
Cahaya cinta itulah yang membuatku lebih sadar atas mahalnya airmata. Mata yang meneyes tiada kan tertahan dalam buaian malam. Alangkah indahnya dunia, ketika semuanya mau menyapa, walau sekedar ha...
Ya Allah, Berarti selama ini Kau benar benar mengujiku dalam keutuhan jiwa, ya Allah izinkan aku sekarang menangis, meneteskan airmata bahagia untuk Dinda yang ku cinta. Maskipun tiada kata yang patut diucapkan kecuali syukur.
Inilah kata-kata itu "Wahai manusia... Matamu sekali-kali kau tutup dengan bingkai Syukur, pendanglah sesuatu yang terkecil dan jadikan media untuk memandang sesuatu yang lebih besar. Dan hariari ini sebelum kita mengatakan kata-kata yang tidak baik, Fikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berkata-kata sama sekali.
Sebelum kita mengeluh tentang rasa dari makanan, Fikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
Sebelum mengeluh tidak punya apa-apa, Fikirkan tentang seseorang yang meminta-minta.
Sebelum mengeluh bahawa kita buruk, Fikirkan tentang seseorang yang berada pada keadaan yang terburuk di dalam hidupnya.
Sebelum mengeluh tentang suami atau isteri, Fikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup.
Sebelum mengeluh tentang hidup, Fikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.
Sebelum mengeluh tentang buaian anak-anak, Fikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.
Sebelum mengeluh tentang rumah yang kotor kerana pembantu tidak mengerjakan tugasnya, Fikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.
Dan di saat letih dan mengeluh tentang pekerjaan, Fikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan.
Sebelum menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, Ingatlah bahawa tidak ada seorangpun yang tidak pernah melakukan kesalahan.
Dan ketika sedang bersedih dan hidup dalam kesusahan, Tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahawa kita masih hidup "
Mataku aku biarkan berlinang menuju surga kebahagiaan, mencerminkan rasa cinta pada Sang... Inilah hidup yang seharusnya dijalani dengan penuh gairah dan santunan jiwa. Malam kini telah larut, izinkan aku untuk menikmati malamku penuh dekapan cinta berbalutkan kasih dan kebahagiaan airmata.
Putri Ningrat
Aku yang terkecil disini duduk bersama tumpukan jerami sama persis ayam yang mengerami. Bagitu hati-hatinya kah untuk sekedar menyapa Putri Ningrat dalam pinangan masa yang agung.
Buaian malam telah lama pudar tergantikan oleh pagi dengan sinarnya yang menjanjikan. Sinar yang begitu indah menawan tanpa goresan luka ataupun kesedihan, hanya cinta kali ini, entah apa yang dicintai, atukan siapa untuk kali ini, tapi siapa...?.
Indah pagi ini, indah bagai purnama tadi malam bersama tawaku bersama putri ningrat, bercanda membual, bergaya bercengkrama, bernostalgia menghiangkan sepi di kemudian hari. Merajut angan menyulam bintang. Mengusir sepi meraih mimpi. Akan kah Putri Ningrat, terus manjadi putri...? Akankah dia suatu kala tidak pudar dimakan usia.
Putri Ningrat kaulah yang selama ini ada dan membayangi merajut cinta dan mengusap air mata.
Huh......
secawan anggur telah menghilangkan dahagaku selama sejuta hari, haus akan cinta, kerongkonganku garing tiada suatu apa, hanya sekedar untuk mengatakan sesuatu mengenai hal itu. Masih adakah budi untukku...
Nyanyian Kosong
Aku Tak Ubahnya “Debu”
Dunia telah menjelma menjadi begitu menakutkan, lebih menakutkan daripada hal yang pernah aku rasakan sepanjang hidupku. huh sungguh perjalanan yang tidak akan pernah aku lupakan. kini sendainya itu akan terulang maka aku mohon jangan.
pinta tiada kata, hanya siulan batin yang siap dengan serpihan tipis sang pembual.
Masyarakat kan dihina, dengan dirinya sendiri, pembicaraan hanya singkat itu pun tanpa kata.
hari ini mendung, tiada yang ku pikirkan, kecuali kekacauan oleh perbuatan semalam. Tapi dengan cinta semuanya sirna.
Sudahlah semuanya telah berakhir. kecuali yang merindukan sebuah kedamaian, atas harga diri sebagai manusia sejati.
Astagfirullah
Astagfirullahil ‘adhzim……., aku tidak mengharap ini hanyalah sebuah kata yang tiada arti, aku ingin suatu saat berarti, untuk mewujudkan cinta sejati. dalam hayal aku sering berharap “jadikan dirimu sebagai bara” yang membakar setiap kesombongan dirimu atas kesombongan cinta, atas asa yang tiada kan pernah terselip dalam rona asmara. Inilah jiwa yang berkata, adakalanya cinta ini bisu, kecut hampa tanpa harap.
Eleng-eleng yo siro menungso,,,,,, onoto ono supoto,, selagini nang njerone dodo gumrigah ananging cipto…..
kita tak ubahnya hanya bayangan yang suatu saat hilang karena datangnya cahaya yang lebih terang, yang tiada kan mampu menahan…..
sudilah kiranya engkau mengulurkan tangan untuk mengatakan setia.
Aku lambaikan tangan, petanda suatu saat kita akan bertemu.
Kamis, 30 April 2009
Seruling Bambu
Teringat olehku dulu, masa kecilku dulu, teringat pada teman sebaya dan permainan jenaka. Alangkah indahnya waktu kecil, dimana belum mengenal cinta, cinta remaja, cinta yang menggembara mencari sandaran untuk memenuhi asmara. Dulu, yang ku kenal hanyalah cinta orang tua bersama nyanyian seruling merdu mengantarkanku dewasa. Nyanyian itu telah menghilang, dan tidak akan lagi terdengar nyanyian itu karena seruling itu kini telah beralih pada pujaan.
Puja, kini kaulah sebagai seruling itu, sebagai pengganti seruling bambu yang berbunyi indah diwaktu dulu, yang hanya dengan tiupan kecil mengobati ku rindu. Itulah yang ingin aku dengarkan sewaktu dulu, yang pernah aku dengarkan. Hiasan pagi, ninaan malam dan goresan pagi.
Akhirnya isakan itupun membangunkanku, isakan ku sendiri yang membuatku terjaga dari kerinduan dengungan indah dalam buaian. Selamat datang wahai diriku. Selamat datang di penghujung penantian. Hanyalah kata yang tiada akhir, yang tiada kan dapat menghadang. Selamat datang... wahai diriku.
