Bismillahirrohmanirrohiim.
Jadilah Donatur dan Donasikan Sebagian Harta Anda Untuk Al-Quran.
Alhamdulillah wasy Syukrulillah, Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Baginda Rosulillah sholallahu ‘alaihi wasalam.
Al-Quran adalah kalam yang indah untuk didengar dan diperdengarkan, terasa sejuk tidak ada rasa bosan dan merasa membosankan, itulah salah satu keunikan al-Quran dan selalu cocok untuk segala situasi dan zaman.
Untuk memompa semangat mereka, di sini kami mengundang ikhwan untuk ikut serta memberi motivasi, men-suport agar lebih banyak lagi penghafal al-Quran, yang pahalanya akan selalu mengalir pada ikhwan semua sebagai “Shodaqotin Jaariyatin” yakni amal yang tidak pernah akan terputus.
Jadilah Donatur dan Donasikan Sebagian Harta Anda Untuk Al-Quran.
Lebih lengkapnya silahkan KLIK DI SINI.
Penaggung jawab,
Abdur Rouf, S. HI
Untuk memulai sebuah tulisan (cerita) memang tidak segampang menyibak gorden jendela. Malah banyak yang bilang bahwa memulai sebuah tulisan itu sulitnya bukan main. Itu bisa dibuktikan jika kita menghadiri acara workshop kepenulisan. Di saat sesi tanya-jawab, pasti ada saja seseorang yang mengangkat tangan kanannya untuk kemudian bertanya, “Bagaimana sih caranya memulai sebuah tulisan?” Padahal, kalau dipikir-pikir, buku-buku tentang kepenulisan itu sudah banyak yang diterbitkan. Arswendo sudah menulis "Mengarang itu Gampang", A.S Laksana juga sudah membuat buku Creative Writing, dan masih banyak lagi buku-buku yang serupa dengan itu, tapi—apa boleh buat—sepertinya permasalahan tentang mengawali sebuah tulisan itu memang tidak akan pernah hilang sampai kiamat datang (hehe. Lebay!).
Baiklah, untuk menghindari kalimat basa-basi, di bawah ini akan saya paparkan lima langkah sederhana dalam memulai sebuah tulisan (cerita).
1. Mulailah dengan Dialog
“Hanun, pergilah ke rawa di seberang Bukik Barisan. Biasanya di sana tumbuh aneka bunga. Petiklah setangkai dua tangkai untukku. Rasanya, penat ini terlerai bila memandang bunga-bunga,” pinta Kakek. Matanya mengedip-ngedip pelan, kulit lisutnya mengernyit dan lewat sorotan matanya, Kakek tidak lagi seriang dulu. (Bunga dari Peking, cerpen Zelfeni Wimra)
2. Mulailah dengan Deskripsi Tokoh
Lelaki tua itu masih berbau rusa dan kaus oblongnya yang lusuh masih menebar bau pembakaran yang tidak sempurna. Sangit.... (Kitab Salah Paham, cerpen Puthut EA)
3. Mulailah dengan Berita di Koran atau Televisi
Jumlah anak balita kurang gizi di Indonesia sekitar 23 juta. Dampak kurang gizi adalah terhambatnya pertumbuhan otak dan fisik. Begitu melewati usia dua tahun tanpa asupan gizi seimbang, kondisinya tak dapat diperbaiki lagi. Citra CT-scan akan memperlihatkan gambar otak yang tidak padat alias otak kosong.... Bersiaplah memanen generasi yang hilang. Tidak lama, cuma dua dasawarsa lagi. (Kompas, Selasa 11 Oktober 2005)
Rombongan sirkus itu muncul ke kota kami.... (Sirkus, cerpen Agus Noor)
4. Mulailah dengan Adegan
Ia menulis puisi panjang di depan sebujur tubuh kaku istrinya. Tidak ada kata-kata; mati, kematian dan airmata di dalam puisi itu, yang adalah buah apel, meja makan, dan yang paling banyak adalah: usaha mati-matian. (Kematian Seorang Istri, cerpen Puthut EA)
Seminggu setelah perceraiannya, perempuan itu memasuki sebuah kafe, dan memesan Rembulan dalam Cappucino. Ia datang bersama senja, dan ia harus menunggu malam tiba untuk mendapatkan pesanannya. (Rembulan dalam Cappucino, cerpen Seno Gumira Ajidarma)
5. Mulailah dengan Seting Tempat
Dalam satu badai rasa jemu, ia terdampar di taman dan duduk di kursi sambil memakan jagung rebus begitu perlahan, sebutir demi sebutir, seolah di butir terakhir ia akan bertemu kematian.... (Cinta Tak Ada Mati, cerpen Eka Kurniawan)
Dari jauh sudah terlihat pohon itu berdiri tegak di tengah padang. Setelah berhari-hari menempuh daerah yang kering kerontang dan terpanggang matahari, pemandangan yang rimbun seperti itulah yang sekarang kubutuhkan.... (Sebatang Pohon di Tengah Padang, cerpen Seno Gumira Ajidarma)
Selesai! Sebenarnya masih banyak lagi tips untuk memulai sebuah cerita. Tapi, di sini saya hanya menampilkan lima cara saja dulu. Cara yang lumayan sering digunakan dan insya Allah mudah dipelajari. Silakan teman-teman coba semuanya, satu persatu. Dengan kita menguasai beberapa cara mengawali tulisan (cerita), semoga kita semua terhindar dari pembukaan cerita yang klise dan sudah ketinggalan zaman seperti, “Pada suatu hari....”, atau “Matahari pagi bersinar indah sekali....”
OK. Sekarang PEJAMKAN MATA dan MULAI bercerita
Baiklah, untuk menghindari kalimat basa-basi, di bawah ini akan saya paparkan lima langkah sederhana dalam memulai sebuah tulisan (cerita).
1. Mulailah dengan Dialog
“Hanun, pergilah ke rawa di seberang Bukik Barisan. Biasanya di sana tumbuh aneka bunga. Petiklah setangkai dua tangkai untukku. Rasanya, penat ini terlerai bila memandang bunga-bunga,” pinta Kakek. Matanya mengedip-ngedip pelan, kulit lisutnya mengernyit dan lewat sorotan matanya, Kakek tidak lagi seriang dulu. (Bunga dari Peking, cerpen Zelfeni Wimra)
2. Mulailah dengan Deskripsi Tokoh
Lelaki tua itu masih berbau rusa dan kaus oblongnya yang lusuh masih menebar bau pembakaran yang tidak sempurna. Sangit.... (Kitab Salah Paham, cerpen Puthut EA)
3. Mulailah dengan Berita di Koran atau Televisi
Jumlah anak balita kurang gizi di Indonesia sekitar 23 juta. Dampak kurang gizi adalah terhambatnya pertumbuhan otak dan fisik. Begitu melewati usia dua tahun tanpa asupan gizi seimbang, kondisinya tak dapat diperbaiki lagi. Citra CT-scan akan memperlihatkan gambar otak yang tidak padat alias otak kosong.... Bersiaplah memanen generasi yang hilang. Tidak lama, cuma dua dasawarsa lagi. (Kompas, Selasa 11 Oktober 2005)
Rombongan sirkus itu muncul ke kota kami.... (Sirkus, cerpen Agus Noor)
4. Mulailah dengan Adegan
Ia menulis puisi panjang di depan sebujur tubuh kaku istrinya. Tidak ada kata-kata; mati, kematian dan airmata di dalam puisi itu, yang adalah buah apel, meja makan, dan yang paling banyak adalah: usaha mati-matian. (Kematian Seorang Istri, cerpen Puthut EA)
Seminggu setelah perceraiannya, perempuan itu memasuki sebuah kafe, dan memesan Rembulan dalam Cappucino. Ia datang bersama senja, dan ia harus menunggu malam tiba untuk mendapatkan pesanannya. (Rembulan dalam Cappucino, cerpen Seno Gumira Ajidarma)
5. Mulailah dengan Seting Tempat
Dalam satu badai rasa jemu, ia terdampar di taman dan duduk di kursi sambil memakan jagung rebus begitu perlahan, sebutir demi sebutir, seolah di butir terakhir ia akan bertemu kematian.... (Cinta Tak Ada Mati, cerpen Eka Kurniawan)
Dari jauh sudah terlihat pohon itu berdiri tegak di tengah padang. Setelah berhari-hari menempuh daerah yang kering kerontang dan terpanggang matahari, pemandangan yang rimbun seperti itulah yang sekarang kubutuhkan.... (Sebatang Pohon di Tengah Padang, cerpen Seno Gumira Ajidarma)
Selesai! Sebenarnya masih banyak lagi tips untuk memulai sebuah cerita. Tapi, di sini saya hanya menampilkan lima cara saja dulu. Cara yang lumayan sering digunakan dan insya Allah mudah dipelajari. Silakan teman-teman coba semuanya, satu persatu. Dengan kita menguasai beberapa cara mengawali tulisan (cerita), semoga kita semua terhindar dari pembukaan cerita yang klise dan sudah ketinggalan zaman seperti, “Pada suatu hari....”, atau “Matahari pagi bersinar indah sekali....”
OK. Sekarang PEJAMKAN MATA dan MULAI bercerita
Tak pernah terbayangkan kalau merpati itu dikemudian hari akan bisa terbang kembali, sayapnya yang patah itu kini telah pulih, itupun akibat perawatan serius dari seorang dokter hewan, maskipun usianya masih 15 tahun. Julukannya sebagai dokter hewan, hanyalah kebetulan saja, bukan dia sebagai lulusan sarjana kedokteran, atau perawat yang biasa merawat hewan peliharaan. Dia hanyalah seorang bocah yang beranjak dewasa, yang baru saja mengenal cinta.
Senyap suara adzan terdengar dikejauhan, suara itu jugalah yang memaksa Syarif untuk membuka matanya, indah nian lantunan itu, mengalir lirih menelusup dinding-dinding telinga mengetuk gendang dan membangunkan penjaganya, Subhanallah, suara iru juga yang kini menghipnotisnya, untuk segera beranjak dan memenuhi panggilan sang penguasa mimpi.
Tak satupun kerutan manja akan buaian mimpi diturutinya, dia meninggalkan pelukan dan belaian hangat selimut tebal, untuk menjeburkan diri pada telaga rohmat, telaga yang penuh dengan kasih sayang, telaga yang tidak akan pernah kering, telaga yang akan selalu memberi kemanfaatan pada setiap jiwa-jiwa yang kering yang membutuhkan siraman.
Disinilah letak telaga itu, tepat dikaki malam, di ujung fajar, kalau pas ada berkah pastilah akan ditemani temeram cahaya rembulan, bak pidadari yang tersenyum selalu mengharapkan kedatangan dilain waktu, menyapa, menyambut,sekedar mengulaskan senyum demi atas nama pertemuan.
Heniiing, dingiiin, menemaninya dalam kecupan pertama yang bertopangkan jemari menahan airmata, dada sesak menahan penyesalan atas dosa, akankah masih ada Syarif, ketika Syarif itu kini telah tiada??
Syarif, hanyalah sebuah julukan, yang diperuntukkan bagi mereka yang selalu ingin mendekatkan dirinya pada sang pencipta. Setiap detiknya Syarif tidak pernah tiada, dia akan selalu ada mengabdikan dirinya pada sang penguasa, merindukan cinta, merindukan senyum untuknya, merindukan kasih-Nya, merindukan sayang-Nya.
Syarif yang dulu renta, kini telah menjelma pada pemuda tampan, bedagu lonjong dan bermata coklat, beralis tebal dan bercambang sedang, rambut hitam bergelombang ikal, bebadan kekar dan berdada lebar, Sungguh sentuhan dari sang pemilik semesta yang maha sempurna.
Dada Syarif kembang kempis menahan sakitnya cobaan, kini dia berada dirumah sakit, untuk sekedar menerima ujian dari Tuhan. Syarif cepatlah sembuh, seribu Malaikat telah mendo'akanmu, seribu senyum telah menunggumu, cepatlah kau sadar, karena dunia akan kiamat seandainya kau pergi dengan membawa kesedihan dihati umat.
Syarif hanya diam, matanyapun hanya mampu untuk terpejam, walaupun demikian, nafasnya masih teratur melafalkan Allah... Allahh... seribu bibir telah mengecupkan sayang, mengiringkan lafal-lafat Allah, begitu juga seribu mata telah merelakan airmatanya mengantarkan kepada pangkuan, dan seribu tangan telah rela mengantarkan nafas-demi nafas untuk menemui Robnya.
Senyap suara adzan terdengar dikejauhan, suara itu jugalah yang memaksa Syarif untuk membuka matanya, indah nian lantunan itu, mengalir lirih menelusup dinding-dinding telinga mengetuk gendang dan membangunkan penjaganya, Subhanallah, suara iru juga yang kini menghipnotisnya, untuk segera beranjak dan memenuhi panggilan sang penguasa mimpi.
Tak satupun kerutan manja akan buaian mimpi diturutinya, dia meninggalkan pelukan dan belaian hangat selimut tebal, untuk menjeburkan diri pada telaga rohmat, telaga yang penuh dengan kasih sayang, telaga yang tidak akan pernah kering, telaga yang akan selalu memberi kemanfaatan pada setiap jiwa-jiwa yang kering yang membutuhkan siraman.
Disinilah letak telaga itu, tepat dikaki malam, di ujung fajar, kalau pas ada berkah pastilah akan ditemani temeram cahaya rembulan, bak pidadari yang tersenyum selalu mengharapkan kedatangan dilain waktu, menyapa, menyambut,sekedar mengulaskan senyum demi atas nama pertemuan.
Heniiing, dingiiin, menemaninya dalam kecupan pertama yang bertopangkan jemari menahan airmata, dada sesak menahan penyesalan atas dosa, akankah masih ada Syarif, ketika Syarif itu kini telah tiada??
Syarif, hanyalah sebuah julukan, yang diperuntukkan bagi mereka yang selalu ingin mendekatkan dirinya pada sang pencipta. Setiap detiknya Syarif tidak pernah tiada, dia akan selalu ada mengabdikan dirinya pada sang penguasa, merindukan cinta, merindukan senyum untuknya, merindukan kasih-Nya, merindukan sayang-Nya.
Syarif yang dulu renta, kini telah menjelma pada pemuda tampan, bedagu lonjong dan bermata coklat, beralis tebal dan bercambang sedang, rambut hitam bergelombang ikal, bebadan kekar dan berdada lebar, Sungguh sentuhan dari sang pemilik semesta yang maha sempurna.
Dada Syarif kembang kempis menahan sakitnya cobaan, kini dia berada dirumah sakit, untuk sekedar menerima ujian dari Tuhan. Syarif cepatlah sembuh, seribu Malaikat telah mendo'akanmu, seribu senyum telah menunggumu, cepatlah kau sadar, karena dunia akan kiamat seandainya kau pergi dengan membawa kesedihan dihati umat.
Syarif hanya diam, matanyapun hanya mampu untuk terpejam, walaupun demikian, nafasnya masih teratur melafalkan Allah... Allahh... seribu bibir telah mengecupkan sayang, mengiringkan lafal-lafat Allah, begitu juga seribu mata telah merelakan airmatanya mengantarkan kepada pangkuan, dan seribu tangan telah rela mengantarkan nafas-demi nafas untuk menemui Robnya.
TUTORIAL BISNIS ONLINE | PANDUAN BISNIS ONLINE UNTUK PEMULA
Posted in:
Label:
Link-an POST
-
0
komentar
Langgan:
Entri (Atom)
