Rouftracal Dot Blogs Post

Selasa, 26 Mei 2009

Aja Dumeh Sugih Banda

ALLAHUMMA SHALLI’ALA MUHAMMAD
SAFI’IL ANAM WA’ALIHI WASAHBIHI
WASALLIM ’ALADDAWAM

Eling-eling sira manungsa,

Temenana lehmu ngaji,
Mumpung durung katekanan,
Malaikat juru pati Luwih susah luwih lara,
Rasane wong nang naraka,
Klabang kures kalajengking,
Klabang geni ula geni Rante geni gada geni,
Cawisane wong kang dosa,
Angas mring kang Maha Kwasa,
Goroh nyolong main zina Luwih beja luwih mulya,
Rasane manggon suwarga,
Mangan turu diladeni,
Kasur babut edi peni.

Cawisane wong kang bekti,
Mring Allah kang Maha Suci,
Sadat salat pasa ngaji,
Kumpul-kumpul ra ngrasani.

Omong jujur blaka suta,
Niliki tangga kang lara,
Nulungi kanca sangsara,
Pada-pada tepa slira.

Yen janji mesthi netepi,
Yen utang kudu nyahuri,
Layat mring kang kasripahan,
Nglipur mring kang kasisahan.

Awak-awak wangsulana,
Pitakonku marang sira,
Saka ngendi sira iku,
Menyang endi tujuanmu.

Mula coba wangsulana,
Jawaben kalawan cetha,
Aneng endi urip ira,
Saiki sadina-dina,
Kula gesang tanpa nyana,
Kula mboten gadhah seja,
Mung karsane kang Kuwasa,
Gesang kula mung sa’derma.

Gesang kula sapunika,
Inggih wonten ngalam donya,
Donya ngalam karameyan,
Isine apus-apusan.

Yen sampun dumugi mangsa,
Nuli sowan kang Kuwasa,
Siyang dalu sinten nyana,
Jer manungsa mung sa’derma.

Sowanmu mring Pangeranmu,
Sapa kang dadi kancamu,
Sarta apa gegawanmu,
Kang nylametke mring awakmu.

Kula sowan mring Pangeran,
Kula ijen tanpa rewang,
Tanpa sanak tanpa kadang,
Banda kula katilaran.

Yen manungsa sampun pejah,
Uwal saking griya sawah,
Najan nangis anak semah,
Nanging kempal mboten wetah.

Sanajan babanda-banda,
Morine mung telung amba,
Anak bojo mara tuwa,
Yen wis ngurug banjur lunga.

Yen urip tan kabeneran,
Banda kang sapirang-pirang,
Ditinggal dinggo rebutan,
Anake padha kleleran.

Yen sowan kang Maha Agung,
Aja susah aja bingung,
Janjine ridhone Allah,
Udinen nganggo amalan.

Ngamal soleh ra mung siji,
Dasare waton ngabekti,
Ndherek marang kanjeng nabi,
Muhammad Rasul Illahi,
Mbangun turut mring wong tuwa,
Sarta becik karo tangga,
Welasa sapadha-padha,
Nulunga marang sing papa.

Yen ngandika ngati-ati,
Aja waton angger muni,
Rakib ngatit sing nulisi,
Gusti Allah sing ngadili.

Karo putra sing permati,
Kuwi gadhuhan sing edi,
Aja wegah nggula wentah,
Suk dadi ngamal jariyah.

Banda donya golekana,
Metu dalan sing prayoga,
Yen antuk enggal tanjakna,
Mring kang bener aja lena.

Aja medhit aja blaba,
Tengah-tengah kang mejana,
Kanggo urip cukupana,
Sing akherat ya perlokna.

Aja dumeh sugih banda,
Yen Pangeran paring lara,
Banda akeh tanpa guna,
Doktere mung ngreka daya

Mula mumpung sira sugih,
Tanjakna ja wigah wigih,
Darma ja ndadak ditagih,
Tetulung ja pilah-pilih.

Mumpung sira isih waras,
Ngibadaha kanthi ikhlas,
Yen lerara lagi teka,
Sanakmu mung bisa ndonga.

Mumpung sira isih gagah,
Mempeng sengkut aja wegah,
Muga sira yen wus pikun,
Ora nlangsa ora getun,

Mula kanca da elinga,
Mung sapisan aneng donya,
Uripmu sing ngati-ati,
Yen wis mati ora bali,
Gusti Allah wus nyawisi,
Islam agama sejati,
Tatanen kang anyukupi,
Lahir batin amumpuni.

Kitab Qur’an kang sampurna,
Tindak nabi kang pratela,
Sinaunen kang permana,
Sing sregep lan aja ndleya.

Dhuh Allah kang Maha Agung,
Mugi paduka maringi,
Pitedah lawan pitulung,
Margi leres kang mungkasi.

Nggih punika marginipun,
Tetiyang jaman rumuhun,
Ingkang sampun pinaringan,
Pinten-pinten kanikmatan,

Sanes marginipun tiyang,
Ingkang sami dinukanan,
Lan sanes margining tiyang,
Kang kasasar kabingungan.

Gesang kita datan lama,
Amung sakedheping netra,
Maena sami andika,
Rukun Islam kang lelima.

AMIN AMIN AMIN AMIN
YA ALLAH ROBBAL ‘ALAMIN
MUGI PADUKA NGABULNA SADAYA PANYUWUN KULA


By: Rouf tracal dari "Alang Alang Kumitir"

Sabtu, 23 Mei 2009

Untukmu perempuan di kebun hikmah

Terukir dari sebuah kata, menginginkan sahabat setia.


Kerinduanmu dibalik kerendahan seorang putri, telah membawaku bergetar saat ingin bertemu. Bukan pertemuan terhadap apa yang kau inginkan tapi pertemuan nyata, bertatap dalam karya.


Dekupan jantung indah menyertai kegersanganku terhadap inginku untuk bertemu, inilah jantungku yang tertahan suara degupnya. menanti belaian dari seorang kasih, bukan Tuhan, tapi hamba yang diciptakan dengan kasih-Nya.


Semoga nafasmu, nafasku, nafas kita ada artinya disisi-Nya, maskipun kadangkala merasa, Tuhan tiada yang mampu dilaku dan dikata. Hanyalah Cinta yang aku rindukan dari-Nya, sebagaimana engkau merindukan belas kasih sayang-Nya. Tidak disini, semoga disana.


Semoga do'amu terkabul, atas do'a kebaikan yang kau pintakan untuk semua orang. Engkau terlalu baik dimataku dengan karyamu. Jangan anggap aku memuja, karena tiada yang pantas untuk dipuja dari seorang hamba sebelum dia memuja tuhan-Nya, bukan juga kamu. maskipun ada rasa kagum untukmu. Biarlah cintaku yang menyertai cintamu untuk selalu menyapa-Nya dengan karya.


Tolong jangan sesadis itu, jangan sampai kata-kataku ini terhapus dari rindumu, karena kata-kataku melebihi sara sara, menghina, mengecam, memojokan, dan menyakitimu. Aku ucapkan selamat datang didunia cintaku, didunia rinduku, dunia yang menginginkan damai kasih.


photo6


Salam dariku, Perempuan dikebun hikmah

Jangan Kau Rendahkan Dirimu Walau dihadapan Tuhan

Takut dan sesal


Suatu saat pikiran yang aneh-aneh itu muncul.


Bayangkan ketika seharian bergelut dengan pekerjaan (kalo boleh dikatakan) maskipun sejatinya nganggur, seharian hanya tidur, tapi segala aktifitas harus mengeluarkan uang dan uang, mau kencing saja butuh uang, apalagi belum yang lainnya, semuanya serba uang, tapi yang namanya uang tak kunjung datang. Al hasil semuanya tak kesampaian.


Cinta terbelangkalai, hati teriris oleh cercaan materi ditambah teman sekanca yang tiada lagi mengerti ada ataukah semuanya malah pergi. Pergi ataukah memang tak mungkin lagi kembali. Maskipun demikian tak kurang dari mereka yang masih ada cinta. Apa yang mereka cintai dariku. Hampa...


Diujung Shubuh semuanya teringat, mulai dari aktifitas, yang tak pantas lagi disebut aktifitas. Makan, gurauan, kelana, jalan-jalan sampainya malam nmenjelang bersama sesliweran kelalawar mencari penghidupan. Aku teringat bahwa semua itu hanyalah permainan yang harus aku mainkan dengan sempurna, maskipun kadang harus-bahkan sering mengginkari permainan tersebut.


Diujung Shubuh seusai terkapar dalam malam panjang, bangunpun tanpa sengaja. Aku menengadah dan berbicara menanyakan tentang cinta, tentang cita, harap, air mata, tahta serta sesal yang tiada kan pernah terjawab.


Hanya sesal yang menjelma


Hanya sesal yang bergelayut dalam jiwa


Tiada semangat


Tiada harap


Semuanya sirna, layaknya kabut yang tertiup siang dan malam yang berubah menjadi terang serta kelalawar yanag tiada mampu lagi memandang. Disitu aku teringat pada diriku, membayangkan dan bertanya "benarkah diriku begitu??, benarkah diriku seperti itu??, senista itu??, setiada itu??, atau se.... itu??


Akhirnya aku tertunduk lemas seusai shubuh, bersimpuh, mengajak diskusi jiwa ini. adakah yang salah dengan perjalanan hidupku?, ataukah ada satu rahasia dibalik perjalananku?


Subhanallah...!!!


Alangkah diriku telah jauh dari rasa Syukur, mensyukuri walau hanya seutas jemari yang melambai, nafas dan jangkahan langkah yang terputus. Dari sinilah aku rubah segala jalan hidupku, ingin rasanya aku berkata.


"Ya Allah, trimakasih, Engkau telah memberi rasa cinta untukku, walau rasa cinta itu hanya sebatas mata, tanpa bisa untuk memiliki, ya Allah izinkan aku untuk menikmati pemberian cinta dari-Mu ini", juga aku ingin berkata...


"Ya Allah, terimakasih, Engkau telah memberiku harta, walau tiada yang dibuat pengganjal perus dihari esok. Tapi izinkan aku untuk menerima segala yang Kau beri..."


"Ya Allah, trimakasih, Engkau telah menberi kesempatan untuk mempersiapakan diri dan merasakan nikmat-Mu yang lain yang akan Kau berikan, trimakasih ya Allah, izinkan aku untuk berucap syukur dilain kesempatan".


Itulah, mengapa aku katakan "jangan rendahkan dirimu walau dihadapan Tuhan" karena pasti ada sisi yang mesti dan harusnya disyukuri daripada mencaci mengingkari nasip yang telah diberi.


Pandang kehidupan dari sisi yang lain.


Jangan biarkan diri ini terjerumus lebih dalam yang akhirnya menyesal, tanpa pernah ada kesempatan untuk menebus segala penyesalan.

Ngapurancang




“Ssttt.....!!!”

Rifai' langsung duduk diantara santri lainnya. Tapi ada yang beda hari ini, biasanya hening dulu, baru ramai. Tapi sekarang... model seperti itu telah berubah. Artinya sekarang ramai dulu, baru kemudian hening. Suasana ini berbeda sekali dengan beberapa hari yang lalu. Rasa khusu' dan hikmat sangat terasa. Seolah-olah semuanya tersihir, terhipnotis oleh kata-kata sosok panutan kharismatik.

Untaian demi untaian, rangkaian demi rangkaian, kata-kata dalam itu membuat yang hadir terasa masuk ke dunia bawah sadar. Sekarang bukan di depan Dedi Corbuzier atau Romy Rafael. Atau terkagum dengan kekuatan Mr Limbad. Bukan, tapi sekarang dihadapan agung Romo.

“Salat berjamaah adalah sebagai tathbiqul ilmi, khususnya bagi santri di pesantren”. Pesan itu yang palin sering didengar oleh para santi, mengenai jama'ah. Entah berapa ribu kali lagi kalimat itu akan diperdengarkan, sebagai kalimat pusaka sang Kiyai.

“Jama'ah”, ya, Jama'ah. Maskipun tidak sedikit dari para santrinya yang tidak mengikuti jama'ah dalam sholatnya. Jangankan berjama'ah, sholatpun kadan sama sekali jarang “Subhana Allah” dapat dibayangkan, seandainya saja yang santri saja sudah berani meninggalkan sholat, apalagi yang tidak pernah sama sekali mengenyam pendidikan agama.

Rifa'i tertegun mendengar perkataaan itu, hatinya sekarang bergetar, bulu kuduknya berdiri, serasa ada tering-taring ganas srigala lapar mengoyak jantungnya tau kuku tajam yang mencakar ulu hatinya. Air matanya menetes lamban, duduk bersila tenang berhitmat dalam naungan suci.

“Seseorang dikatakan berilmu agama tinggi jika ia melaksanakan syariat agama dengan benar, lebih-lebih salat berjamaah” kata-katanya kembali menembus dada Rifa'i, santi yang telah lama di Pesantren, tapi dirinya serasa jauh dari hidayah.

“Sehingga pondok pesantren seakan bercahaya dan terlihat nur dan barakahnya adalah pesantren yang para santrinya istiqamah salat berjamaah, walaupun bangunannya berupa goprak atau gedhek” sang Kiyai berhenti sejenak, lalu melanjutkannya “Dan sebaliknya, walaupun pesantren yang bergedung tingkat tujuh, akan tetapi para santrinya tidak kulino atau bahkan sembrono dalam salat berjamaah, seakan suram dari cahaya ilahiyyah”.

Tidak ada yang berbicara diantara sekian banyak santri, suasana hikmat semakin terasa. Hentakan Kiyai seakan menghujam dan menembus dada para santri, menghantarkan hidayah Illahiyah.

Siang itu diluar Musholla sangat menyengat, maklum musim penghujan telah lama beranjak dan bergati dengan musim kemarau yang panas. Bahkan diluar sana Kebakaran telah merajalela, mulai dari pemukiman sampai perhutanan tak luput dari incaran luapan api kekeringan. Tidak hanya diluar jawa, di Jawa sendiripun telah beberapa kali terjadi bencana serupa, kebakaran akibat kekeringan yang telah melanda.

“Oleh karena itu, ketika mushalla di pesantren ini belum selesai dalam pembangunan” Kiyai berhenti, seraya melihat pembangunan Musholla yang dalam masa pembangunan.

“sehingga santri-santri tidak bisa serempak berjamaah, maka saya minta untuk tidak meninggalkan salat berjamaah, walaupun itu dilaksanakan secara bergelombang, menyesuaikan tempat dan kegiatan santri yang berbeda-beda waktunya”.

Kembali dada Rifa'i terguncang. Dalam lamunnya dia membayangkan, seandainya dia adalah santri yang kaya raya, sudah tidak lagi dicekik kebutuhan, maka dia akan menanggung semua biaya pembangunan dan menyelesaikannnya dengan cepat tanpa tersendat. Angan itu hanya tinggal angan, untuk sekarang saja tunggakan spp masih tiga bulan yang belum terbayar, walaupun hanya seharga sekarung beras.

Harus melunasinya dari mana... Bapaknya hanya seorang tukang becak, yang setiap harinya sudah cukup lumayan kalau bisa dibuat makan. Ibunya hanya pedagang asongan, yang sesekali harus berhadapan dengan salpol pp, belum lagi adik-adiknya yang saben hari harus ada jatah uang jajannya, ya tidak banyak sih, cuma cukup buat beli es waktu sekolah.

Keadaan memang susah, dan tidak ada sebenarnya yang mau hidup dalam kesusahan. Maka dari itu, mengapa Rifa'i diantarkan ke Pondok dan dititipkan kepada Kiyai, hanya satu harapnya, semoga kehidupan esok lebih baik, dapat melihat anak tidak seperi orang tuanya. Seandainya nasip itu tidak jauh beda dari orang tuanya paling tidak bisa menjadi juragannya. Maskipun Ibunya jadi pedagang asongan, dia bisa jadi kelahiran dari tukang becak, setidaknya Rifa'i nanti.

“Hal ini sebagaimana yang didawuhkan mbah romo kyai Abdul Hadi Zahid ketika saya sowan pertama kali mondok di Langitan, beliau mengatakan bahwa salat jamaah sebagai ganti tirakat di pesantren, karena sekarang bukan zamannya untuk tirakat, berbeda dengan dahulu. Sehingga, jika saya mewajibkan setiap santri untuk tirakat maka akan lebih sedikit sekali orang yang mondok.”

Para santri hanya bisa manggut-manggut, mengikuti apa yang dituturkan sang Kiyai.

“Memang, santri dulu biasa melakukan tirakat, sebagaimana ketika saya mondok di pesantren Langitan dulu. Banyak santri termasuk saya sendiri beli kayu ke stasiun Babat untuk menanak nasi, dipikul sendiri, dan memakai klompen walaupun jaraknya jauh sekalipun. Ada pula yang makan jagung sehari semalam dan lain-lain.

“Maka, kulinakno untuk salat berjamaah sebagai pengganti tirakat, dan cobalah rasakan ketika anda sudah istiqamah salat berjamaah, sehingga jika tidak salat berjamaah satu kali saja, akan merasa sangat bingung sekali. Namun, kalau tidak bisa kulino, berarti memang hatinya sudah tertutup dari hidayah Allah s.w.t. Al-Faqir, saya sendiri jika tidak salat jamaah satu kali saja, getun-nya luar biasa, lebih baik kehilangan uang satu juta. Dan ketika saya bepergian pun, saya selalu mengajak satu atau dua orang untuk salat berjamaah di perjalanan. Maka, apa tidak merasa eman untuk tidak salat berjamaah?!.

“Oleh karena itu, saya tekankan kepada santri untuk salat berjamaah, lebih-lebih kepada guru yang berada di dekat lingkungan pesantren ini, sehingga ia juga bisa menjadi contoh para muridnya. Manfaatnya akan lebih terasa ketika menunggu imam, dengan memperbanyak membaca dzikir. Dan, jikalau di kalangan pesantren saja tidak salat berjamaah, bagaimana nanti di masyarakat kelak. Apakah tidak melihat rasulullah s.a.w, yang beliau sendiri adalah; contoh yang baik, bagi orang yang mengharap (ridha) Allah dan hari akhir dan memperbanyak dzikir (menyebut nama Allah).

“Bagaimana ihtimam-nya beliau tentang salat jamaah, sehingga beliau punya azam, agar ada salah satu sahabat yang menjadi imam salat, kemudian beliau keliling di sekitar rumah sahabat. Beliau mengatakan bahwa jika ada sahabat yang tidak ikut salat berjamaah, maka akan saya bakar rumah sahabat tersebut. Hal ini menunjukkan saking pentingnya salat berjamaah itu. Sedangkan ulama' salafusshalih dulu, jika tertinggal takbir al-ihram saja, dilawat 3 hari dan kalau tertinggal salat jamaah sekali saja, maka ditakziyahi sampai 7 hari sebagaimana orang yang meninggal dunia.

“Sekali lagi, saya minta dewan guru dan para santri untuk lebih memperhatikan salat berjamaah, termasuk adabiyah dan peraturan berjamaah; shafnya harus kenceng, tidak ada yang lowong. Jangan sampai kalau shaf yang pertama belum komplit, sudah membuat shaf lagi. Hal ini menunjukkan tidak mempraktekkan adabiyah dan tatacara berjamaah.

Bagi para imam-imam agar menoleh ke belakang dahulu, jangan langsung takbir, dan tidak meneliti apakah barisannya sudah rapet dan lurus atau belum, karena hal itu tidak mendidik santri.

“Maka, insya Allah, jika salat berjamaah dilaksanakan dengan istiqamah, kita akan tetap bersatu dan kokoh, juga termasuk bagian dari tathbiq al-ilmu bi al-amaliyah khususnya dalam hal salat berjamaah. Dan ilmu yang dipelajari di pesantren ini insya Allah akan lebih bermanfaat serta niscaya di akhirat nanti kita akan dikumpulkan dengan rasulullah s.a.w, para sahabat dan ulama' salafusshalih lantaran kita melaksanakan apa yang telah mereka lakukan.

“Mudah-mudahan apa yang didawuhkan oleh hadratussyaikh KH. Abdul Hadi Zahid, bahwa tirakat santri adalah salat berjamaah, bisa dilaksanakan oleh para santri semua, sehingga dijadikan oleh Allah s.w.t sebagai hamba yang shalihin muttaqin”

“Amiinn” Para santri menimpalinya dengan gemuruh.

Seusai Kiyai menyampaikan Amanahnya untuk santri, beliau turun dan bersalaman kepada seluruh santri, dengan cara ngapurancang. Ini merupakan berjabat tangan ala Nabi yang dilakukan setahun sekali, sebagai ijazah untuk para santinya.

888

Rifa'i, duduk termenung, angin pagi menyambutnya riang. Sudah dua hari Rifa'i menghabiskan waktu liburannya dirumah bu Lastri, Bibi sekaligus orang yang berperan penting dalam kelanjutan belajarnya. Dia termasuk orang berada dari semua saudara-saudaranya, bu Lastri saudara ke2 dari tiga bersaudara. Yang tua bu Jamilah, ibu Rifa'i dan yang terakhir pak Rustam, mereka hanya beda desa namun masih tetangga.

“Rifa'i,, sarapan dulu..!!” ajak bu Lastri

“Enggeh Bi....”,

Seraya duduk didekat Rifa'i, bu Lasri basa-basi menanyakan kabar tentang dirinya,.

“Benar kamu menginginkan gadis anak pak Ramli??” pertanyaan itu membuatnya tersentak, Rifa'i hanya diam membisu. Tidak sepatah katapun yang dikeluarkan.

“Ingat kamu masih sekolah” lanjutnya, “jangan memikirkan yang tidak-tidak, belum saatnya, pikirkanlah sekolahmu dulu, kosentrasi belajar, jangan hanya karena gadis belajarmu buyar, jangan sia-siakan usaha orang tuamu, yang siap bekerja membanting tulang untuk anak yang diharapkan sebagai penggantinya nanti, sebagai tulang punggung” Rifa'i semakin tertunduk.

“Enggeh Bi...”

“Enggah.... Enggeh saja kamu dari tadi, ya udah sarapan dulu....”
Keduanya beranjak menuju ruang makan.

“Paman, kapan pulangnya Bi...?”

“Paling seminggu lagi”

“O....”

“kamu tidak membantu orang tuamu?”

Inilah pertanyaan mematikan yang sangat memukul jiwanya. Serasa memikul seribu beban.
“Udah ngak usah kamu masukkan hati..., anggap saja itu motifasi untuk mu, jangan putus asa. Maskipun hidup dalam kesederhanaan, namun jiwa tetap harus kau kayakan”

“Enggeh Bi..”

888

Jelang pertengahan hari Rifa'i berpamitan untuk pulang. Ingin rasanya dia pulan dan membantu Ibu atau ayahnya sekuat tenaga bahkan kalau bisa sia yang harus lebih keras daripada orang tuanya.

“Assalamu'alaikum...”

Tak ada jawaban, rumah itu kosong, biasa kalau siang,bapaknya ke pangkalan sedang ibunya jualan. Rifa'i berpikir keras, apa yang harus dilakukan...

“Huh....” dia menghela nafas panjang, keinginannya untuk membantu dan bekerja dengan keras, hanya tinggal keinginan, dia hanya duduk termenung melamun, bahkan suara adzan itu tidak masuk ditelinganya. Adzan Dhuhur itu terasa angin lalu, keinginannya untuk giat berjama'ah, seperti halnya pas mendengarkan tausiyah Kyai. Inilah cobaan terberat menjadi santri, harus melawan hawa nafsunya sebagaimana para Kyai.

“Nanti aja, baru Adzan...” batinnya bergumam. “jama'ah juga kan ngak harus setelah selesai adzan, entar dulu lagi asyik...”

“Apa kamu tidak ingat akan janjimu...?” sisi batin yang lain menimbali “janji seorang santri dihadapan Kyai”

“Apa kamu pernah berjanji..?, kapan?” saat mendengarkan ceramahnya kemarin..? saat hatimu berkeinginn untuk seperti Kyai, ingat siapa kamu anak tukang becak, seharusnya kamu membantu orang tuamu, bukan malah ke Pesantren, apa yang kamu peroleh disana, kamu tidak mamperoleh apa-apa, malah menghabiskan penghasilan orang tuamu”

“Seharusnya kamu menunjukkan oleh-olehmu dari pesantren, pesantren itu bukan tempat mencari uang, tapi tempat menimba ilmu, untuk apa kamu belajar kalau tidak diamalkan...?

“Apa yang kau dapat dari pesantren?”

“Kamu harus ingat, setiap kebaikan yang kau dengar dan setiap hasanah yang kau baca, itu adalah ilmu. Ketika kamu sudah pernah tau bahwa jama'ah dan tepat waktu dalam melakukan sholat itu yang utama, lakukanlah, jangan ditunda-tunda”

“Huh...” Rifa'i Menarik nafas... Perdebatan hatinya semakin mengacaukan pikirannya semakin membuatnya tidak tenang.

Tiba-tiba Perkataan Kyai itu terngiang “Bagaimana ihtimamnya beliau tentang salat jamaah, sehingga beliau punya azam, agar ada salah satu sahabat yang menjadi imam salat, kemudian beliau keliling di sekitar rumah sahabat. Beliau mengatakan bahwa jika ada sahabat yang tidak ikut salat berjamaah, maka akan saya bakar rumah sahabat tersebu...”

Rifa'i tersentak, lalu dengan berat melangkah masuk, ganti pakaian, kmudia kemasjid dan melakukan sholat berjama'ah.

Alangkah indahnya ketika kita mampu dan selamanya menag dalam memerangi nafsu. Rifa'i bukan orang nakal, dia hanya kadang-kaddang kalah akan nafsunya. Itulah manusia, kadang kalah dan kadang harus mengalahkannya.

Huuu.... alangkah damainya batin Rifa'i sekarang, batin yang tenang, seorang Rifa'i yang mampu mengalahkan nafsunya tanpa paksaan. Inilah cahaya hidayah yang dijanjikan.

“ya Allah, aku adalah hambamu, hamba yang siap kapan saja Engkau panggil, untuk menemui-Mu, untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatanku. Aku tidak takut akan neraka-Mu, aku juga tidak mengharapkan akan surga-Mu, yang aku inginkan hanyalah ridho-Mu dan mampu melaksanakan titah-Mu yang hanya untuk-Mu.

888

Mendung menyambut pagi,angin kencang kadang berhenti menerpa, hilir semilir terasa sejuk membelai belan jiwa. Rifa'i berdiri, menatap gerbang pesantren, serasa ada getaran lembut menelusup halus, mengatakan “selamat datang di pesantren... sudah siapkah kamu menjalankan aktifitas barumu??”

Rifa'i tersenyum, atas kemenangannya menghadapi godaan nafsu. Kini dengan semangatnya dia ingin menyempurnakan ilmu dan mencari hal-hal yang baru. Menambah ilmu dari sang Guru.

Semoga cita-citamu berhasil Rifa'i.

Semoga

By: Rouf tracal

Kamis, 21 Mei 2009

Sastra dalam Kajian Masyarakat Indonesia

Dalam sejumlah kesempatan, sering muncul pertanyaan apa hubungan kajian sastra dengan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat Indonesia? Pertanyaan tersebut tentu perlu mendapat tanggapan serius, bukan saja berkaitan dengan relevansi kajian sastra terhadap masyarakat, melainkan pula terhadap orientasi dan masa depan ilmu dan kajian sastra itu sendiri.

Tidak dapat dimungkiri masih sering muncul pertanyaan apa yang dapat dipelajari dari sebuah puisi, cerpen, atau novel. Latar belakang pertanyaan tersebut muncul karena masih terpeliharanya asumsi dan persepsi bahwa mempelajari puisi seolah mempelajari keindahan olah kata. Atau mempelajari novel seolah mempelajari sebuah cerita fiktif, cerita yang mengada-ada, yang hampir tidak berhubungan dengan fakta-fakta dalam realitas kehidupan. Itu pula sebabnya, kemudian muncul pertanyaan, setelah mempelajari sastra, atau lulusan sarjana sastra itu bisa bekerja di mana? Atau instansi apa yang dapat menerima sarjana yang lulus karena mempelajari puisi, cerpen, atau novel?

Di Indonesia, pertanyaan tersebut tentu tidak sepenuhnya salah. Hingga hari ini, pelajaran dan pengertian sastra (terutama di SMP dan SMA), masih bergerak dalam penapisan struktural. Bahkan beberapa kurikulum di perguruan tinggi pun masih ''mempertahankan'' paradigma itu sehingga persoalan sastra seolah bergerak hanya dalam koridor tema, penokohan, latar, alur, sudut pandang penceritaan, gaya bahasa, dan sebagainya. Pengetahuan itu dipelihara, disimpan, dan diteruskan sehingga para pelajar (dan masyarakat) masih ''berkeyakinan'' bahwa persoalan sastra tidak lebih dari itu. Yang mengherankan, sejumlah buku (teori) yang belakangan terbit tentang kesusastraan masih meneruskan tradisi itu.

Memang, penapisan struktural penting karena bagaimanapun teori itu menjadi dasar bagi pengetahuan kesusastraan. Masalahnya, teori-teori struktural justru mulai tidak relevan karena tidak menjelaskan sejarah, konteks, dan sosiologi kehadiran sebuah karya sastra. Teori struktural juga tidak meletakkan substansi karya sastra sebagai sebuah karya yang mampu mengemas persoalan manusia dan masyarakat secara esensial. Hal yang dimaksud sebagai sesuatu yang esensial adalah bahwa berbagai persoalan faktual yang dihadapi manusia dikemas dalam suatu ''abstraksi universal'' sehingga ''fakta cerita'' (fiksi) menjadi sesuatu yang mampu menelanjangi hakikat persoalan manusia.

Belakangan ini, mengingat sejumlah persoalan yang semakin runyam, relevansi dan kontribusi kajian sastra semakin dipertanyakan dalam ikut memikirkan masalah yang dihadapi masyarakat Indonesia. Masalah-masalah itu antara lain, seperti kita sudah sangat tahu, masalah kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan. Dalam perspektif yang lebih spesifik terdapat juga masalah korupsi, ketidakadilan dalam berbagai bentuknya, konflik dan kekerasan, kesemrawutan sosial, keuangan yang mahakuasa, dan sebagainya.

Memang, pertanyaan itu terkesan tidak adil ketika sastra, pengetahuan yang dianaktirikan, harus menanggung beban masalah sebesar dan seberat itu. Akan tetapi, harus ada sikap-sikap yang bersifat ideologis dan berpihak terhadap masalah bangsa dan negara, ketika ilmu-ilmu lain, seperti ekonomi, politik, atau teknologi, justru terlibat dalam persoalan (dan penyebab) kemiskinan, kebodohan, atau bahkan ketidakadilan.

* * *

Persoalannya adalah bagaimana sesuatu yang esensial tersebut dikaitkan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia. Dalam hal itu, hal yang perlu dipahami adalah bahwa karya sastra merupakan ''hasil seleksi'' dari berbagai peristiwa dan kejadian, disaring secara substansial dari berbagai motif fakta kemanusiaan, dipikirkan dengan jeli dan rumit, dan dikemas dalam satu jaringan tekstual yang berfungsi sebagai penanda. Hasilnya adalah sebuah teks yang dapat dijadikan ''sumber informasi'' dalam memahami berbagai persoalan manusia dan suatu masyarakat.

Kunci utama persoalan terletak pada adanya pengakuan bahwa pada akhirnya hal-hal yang perlu dipelajari dan ditafsirkan, baik dalam ilmu politik, hukum, sosial, ekonomi, agama, budaya, bahkan teknologi adalah kata, ungkapan, pernyataan, atau cerita. Dalam kasus-kasus politik atau agama, memang terdapat fakta-fakta di tingkat kenyataan, seperti kasus-kasus kekerasan atau pergeseran-pergeseran kecenderungan/fenomena kehidupan sosial.

Ketika kita mempelajari kasus kekerasan atau berbagai perubahan kecenderungan tersebut, yang kita pelajari adalah kata, ungkapan, cerita, atau tegasnya teks. Dalam arti, berbagai kejadian atau peristiwa itu pada akhirnya direkam (dalam berbagai cara), disampaikan, didiskusikan, dianalisis, ditafsirkan, dicarikan solusinya, berdasarkan hasil laporan, cerita, atau teks.

Kasus mutakhir yang membuat heboh, misalnya, kasus SKB tiga menteri berkaitan dengan posisi atau kedudukan Ahmadiyah. Hal yang membuat heboh adalah teks keputusan itu, yang diramaikan adalah teks. Sejumlah peneliti dalam mendapatkan informasi juga berdasarkan wawancara (cerita informan) atau berdasarkan sejumlah tulisan (teks). Lantas, apa bedanya dengan karya sastra?

Hal yang membedakan adalah karya sastra ditulis dan dikemas dalam satu abstraksi peristiwa/kejadian sehingga karya sastra menjadi sesuatu yang, seolah-olah, tidak berhubungan dengan kenyataan. Padahal, karya sastra justru mengangkat peristiwa atau kejadian tersebut secara berbeda, secara simbolik, dan dalam cara-cara tertentu justru menjadi sebuah teks yang informatif karena berbagai kejadian disajikan dalam sebuah cerita yang inspiratif dalam memahami peristiwa atau kejadian yang terjadi di masyarakat.

Dalam paradigma itulah, kajian sastra selayaknya dapat dikembangkan menjadi salah satu sumber dalam memahami apa yang sesungguhnya sedang terjadi di masyarakat. Novel Proyek karya Ahmad Tohari, misalnya, dapat dijadikan salah satu bahan bagaimana menjelaskan alur korupsi, bagaimana karakter-karakter yang terlibat, sebab-sebab terjadinya korupsi, dan bagaimana korupsi menjadi suatu budaya dalam masyarakat Indonesia.

Novel Mantra Pejinak Ular karya Kuntowijoyo dapat dijadikan informasi dan inspirasi bagaimana memahami jalannya politik di Indonesia. Bahkan juga dapat dipakai bagaimana menggerakkan masyarakat untuk lebih sadar berhadapan dengan lingkungan hidup. Novel Umar Kayam Para Priyayi dan Jalan Menikung dapat dijadikan bahan yang sangat penting dalam memahami persoalan perubahan sosial Indonesia.

Tentu banyak karya sastra lain, termasuk cerpen dan puisi, yang dapat dijadikan bahan atau sumber informasi, sumber inspirasi, dalam memahami persoalan kriminalitas, persoalan demokrasi, ketidakadilan, dan berbagai konflik dan kekerasan yang terjadi di Indonesia. Berbagai kajian itu selayaknya diapresiasi dengan kejadian di tingkat kenyataan sehingga karya sastra mendapat posisi yang lebih kontekstual dalam persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia.

Saya mengira, mengingat berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia, kajian (sastra) yang tidak mencoba membantu menjelaskan atau memberi pemahaman baru, atau yang tidak mencoba membantu mencarikan solusi dalam mengatasi berbagai masalah yang dihadapi Indonesia, bangsa yang hampir tidak pernah keluar dari rundung kemalangan dan kemiskinan, kajian itu secara relatif mungkin tidak berguna. (*)

Sastra dalam Kajian Antropologi Budaya

Memandang fenomena kesusasteraan sebagai fenomena kebudayaan dan memperlakukannya sebagai unsur kebudayaan tidak bisa dilepaskan dari paradigma atau kerangka berfikir yang digunakan antropolog untuk memahami dan menjelaskan kebudayaan itu sendiri. Beberapa paradigma ini antara lain adalah evolusi kebudayaan (Evolutionism), diffuse kebudayaan (diffusionism), fungsionalisme (functionalism), strukturalisme Levi-Strauss (structuralism).

Paradigma Evolusi Kebudayaan
Paradigma ini merupakan paradigma antropologi yang boleh dikatakan yang paling tua, hingga kini terus mengalami penyempurnaan dan banyak dipakai dalam berbagai kajian, serta berhasil menambah pemahaman yang lebih utuh tentang fenomena kebudayaan yang teliti. Yang menjadi dasar dari paradigma ini adalah teori evolusi yang menyatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini mengalami perubahan kea rah yang lebih kompleks.
Kerangka berfikir evolusionistis sebenarnya sudah ada dalam pemikiran pengamat sastra Indonesia, namun tidak sangat eksplisit atau tidak dibuat eksplisit.sehingga jarang kita mendengar adanya analisis evolusionistis terhadap karya sastra. Pemagian priodesasi karya sastra Indonesia menjadi beberapa angakatan seperti Balai Pustaka, Pujangga baru, 45, pada dasarnya mengandung benih-benih pemikiran evolusionistis.

Paradigma Difusi Kebudayaan
Dalam paradigma ini perubahan dan persamaan antar kebudayaan dipandang sebagai sebuah proses yang terjadi karena adanya kontak antar pendukung kebudayaan satu dengan yang lainnya. Kontak-kontak ini kemudian melahirkan proses peniruan, penyatuan, perubahan pelbagai macam unsur kebudayaan yang datang baik luar maupun dalam. Perubahan kebudayaan dengan demikian merupakan hasil proses difusi.
Dalam kajian filologi, bentuk kajian sastra yang tertua, seorang peneliti mencoba menentukan karya sastra mana yang ‘asli’ dibanding yang lain, di antara beberapa karya yang memiliki perasamaan dan kemiripan. Karya sastra yang lebih tua dikatakan karya yang ‘ditiru’ oleh penulis untuk menghasilkan karya sastra baru. Proses peniruan ini secara eksplisit menunjukkan bahwa paradigma diffuse telah telah digunakan dalam kajian sastra.

Paradigma Fungsionalisme
Pemikiran fungsionalisme, dipelopori oleh Malinowski, berawal dari adanya kontak yang intens dari peneliti dengan objeknya yang menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif pada diri peneliti. Lewat kacamata fungsional, peneliti akan berupaya antara lain: 1. memperlihatkan bahwa unsur kebudayaan yang masih hidup dalam masyarakat pada dasarnya memenuhi fungsi tertentu dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan itu sendiri, 2. memperlihatkan keterkaitan unsur tertentu dalam masyarakat yang diteliti dengan unsur yang lain, 3. saling keterkaitan dan hubungan fungsional antar unsur tersebut juga telah membuat perubahan yang terjadi pada satu unsur kebudayaan tertentu akan mengakibatkan perubahan pada pelbagai macam unsur yang lain.
Jika pandangan ini diterapkan dalam analisi karya satra, makan kata ‘kebudayaan’ di atas cukup diganti dengan kata ‘sastra’, dan kita sudah akan dapat memperoleh hasil analisis fungsional atas suatu atau beberapa karya sastra.

Paradigma Strukturalisme Levi-Strauss
Paradigma ini merupakan paradigma yang memiliki pengaruh yang paling luas di luar antropologi. Berbeda dengan evolusi kebudayaan dan fungsionalime, yang mengambil model-modelnya dari ilmu biologi, strukturalisme Levi-Strauss banyak mengambil model dari linguistik, yang dikembangkan Saussure dan fonologi dari Jakobson. Levi-Strauss menyamakan fenomena budaya dengan fenomena lingusitik, yaitu simbolik yang lahir untuk dan dari kebutuhan manusia untuk melakukan komunikasi. Salah satu konsep yang digunakan adalah konsep transformasi. Transformasi di sini mengacu pada ‘perubahan’ dengan ciri tertentu, sebagaimana yang terjadi dalam fenomena linguistik, dari kalimat aktif ke kalimat pasif, atau dari fonem tertentu menjadi fonem yang lain dengan fungsi yang sama karena adanya fonem-fonem lain yang mengitari. Pada transformasi ini kita tidak melihat perubahan sebagaimana yang terjadi pada fenomena sosial-budaya umumnya, oleh karena itu, barangkali, transformasi di sini lebih tepat jika dialihbahasakan sebagai ‘alihrupa’.

Novel Populer Vs Novel Serius

Cerita dalam Novel sangatlah berpengaruh pada kehidupan dan pola pikir si pembaca, hal ini disebabkan karena kekuatan yang digunakan oleh si pengarang kekuatan seting serta penokohan. Novel-novel tersebut sangatlah beragam, namun demikian Novel secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu Novel Populer dan Novel Serius.

Ciri umum yang paling mudah kita tangkap dalam novel populer adalah bentuk covernya yang sering menonjolkan warna cerah, ilustrasi agak ramai, gambar wanita de-ngan tetesan air mata atau gambar pemuda yang sedang memeluk kekasihnya. Indikator luar ini tentu saja belum dapat sepenuhnya untuk menentukan sebuah novel populer atau tidak. Oleh karena itu, perlu kita mencermati pula indikator dalamnya yang menyangkut unsur-unsur intrinsik novel yang bersangkutan. Mari kita periksa!
Dari segi penokohan, novel populer umumnya menampilkan tokoh-tokoh yang tidak jelas identitas tradisi-kulturalnya. Hal tersebut dapat dilihat dari nama tokohnya, seperti Fredy, Sisca, Frans, Boy, Vera, Tommy atau Yance. Mengingat nama-nama itu ti-dak berakar pada kultur daerah, maka identitas sebagian besar tokohnya ditandai dengan latar perkotaan. Adapun tema-tema yang diangkat umumnya menyangkut percintaan para remaja yang masih bersekolah atau mahasiswa. Jika tokoh-tokohnya seperti itu, maka konflik yang muncul di antara tokoh itu berkisar pada status sosial orang tua masing-masing, perebutan pacar, atau persoalan-persoalan remeh-temeh di sekitar usia pubertas.

Dari segi latar tempat dan latar peristiwa, novel populer cenderung menampilkan latar kontemporer dengan berbagai peristiwa yang aktual. Karena mengejar aktualitas dan kontemporer itu, maka latar dalam novel-novel populer akan terus berubah sesuai dengan zamannya. Cintaku di Kampus Biru (dunia kampus), Ali Topan Anak Jalanan (dunia SMA) atau Lupus (dunia SMP/SMA), merupakan contoh latar novel populer yang berubah sesuai dengan kondisi dan suasana zamannya. Sebelum itu, novel-novel tahun 1970-an karya Motinggo Busye, Ali Shahab, Abdullah Harahap, menampilkan latar kehi-dupan rumah tangga yang berantakan.

Ciri lain yang cukup menonjol dalam sastra populer adalah tampilnya tokoh-to-koh yang stereotipe. Tokoh ibu tiri, misalnya, akan tampil dengan sifat-sifatnya yang pilih kasih, kejam, judes, munafik, dan sifat buruk lainnya. Tokoh anak-anak remaja, tampil dengan hura-huranya, pesta, rebutan pacar, darmawisata, dan kebiasaan-kebiasaan para remaja, termasuk mungkin juga dengan tawurannya. Dalam kenyataannya, tidak semua ibu tiri berperilaku buruk yang seperti itu. Demikian juga, tidak semua remaja mempu-nyai kebiasaan demikian. Akibatnya, tidak ada kemungkinan lain bagi pembaca untuk memperoleh gambaran yang khas, unik, dan berbeda dengan kelaziman umum.

Tipe tokoh yang stereotipe itu akan dihadapkan dengan problem yang sederhana, tanpa pendalaman. Tujuannya memang agar pembaca tidak perlu berkerut dahi, berpikir kritis, karena ia lebih menekankan pada unsur hiburannya. Bahkan, tidak jarang novel po-puler menyajikan mimpi-mimpi indah dan semu yang menggoda perasaan pembaca.

Dalam hal itu, perasaan pembaca sengaja dimanfaatkan dan dieksploitasi, agar pembaca seolah-olah menjadi bagian dari tokoh-tokoh yang digambarkannya. Itulah sebabnya, pemihakan pengarang kepada tokoh-tokoh yang digambarkannya, sering kali begitu jelas. Pembaca tidak diberi peluang untuk memperoleh penafsiran lain, karena memang tidak ada kemungkinan munculnya ambiguitas atau tafsir ganda. Makna dan amanat yang ditampilkannya bersifat tunggal. Itulah amanat yang banyak terdapat dalam novel populer. Dengan begitu, akhir cerita tidaklah terlalu sulit untuk ditebak, karena memang sengaja dibuat demikian.

Mengingat sastra populer lebih mementingkan kesenangan, kesederhanaan, pe-nyelesaian persoalan yang gampang dan selalu tuntas, dan tidak merangsang pembacanya untuk berpikir, maka dikatakan pula bahwa sastra populer sebagai bacaan untuk mereka yang tidak memiliki pengetahuan; bacaan untuk pembantu rumah tangga, anak-anak atau remaja, dan bukan untuk kaum terpelajar.
***

Apa yang menjadi ciri-ciri novel populer, justru bertentangan dengan ciri-ciri novel serius. Dalam novel serius, pembaca dirangsang untuk berpikir, diperdayai dengan menyelimuti amanat dan pesan pengarangnya. Karena tersembunyinya pesan itu, terbuka peluang bagi pembaca untuk memberi penafsiran yang bermacam-macam. Tema cerita yang rumit, tokoh-tokoh yang mengalami konflik batin dan perubahan sikap. serta latar cerita yang turut mendukung problem yang dihadapi tokoh-tokohnya, justru memberikan banyak hal kepada pembaca. Mungkin pembaca mendapatkan informasi kesejarahan, pe-ngetahuan, pendalaman, dan makna kehidupan manusia.

Secara ringkas, novel serius umumnya menampilkan tema yang kompleks. Meski-pun tak bertema besar atau universal, persoalannya disajikan secara rumit, sehingga me-merlukan penyelesaian yang juga rumit, tidak gampangan, atau mungkin juga tidak ada penyelesaian (open ending). Selain itu, hubungan antar-unsur, seperti tema, latar, tokoh, dan alur, memperlihatkan kepaduannya (koherensi). Dengan demikian, setiap unsurnya hadir secara fungsional; saling mendukung. Dalam novel serius, pengarang cenderung memanfaatkan kebebasan berkreasi (licentia poetica). Dengan kebebasan itu, pengarang akan selalu berusaha menampilkan hal yang baru dengan tetap menjaga orisinalitasnya.

Dalam studi kebudayaan (cultural study), novel serius termasuk ke dalam katego-ri produk kebudayaan tinggi atau elite (high culture), sedangkan novel populer termasuk ke dalam produk kebudayaan massa atau populer (mass culture/popular culture). Kebu-dayaan tinggi atau elite dihasilkan dan diminati hanya oleh kalangan yang sangat terbatas. Pemahaman terhadap produk kebudayaan elite menuntut khalayak yang terlatih, berwa-wasan, dan mempunyai tingkat apresiasi yang tinggi. Mengingat tuntutannya yang demi-kian, maka novel serius dianggap hanya dapat dinikmati oleh kalangan terpelajar.
***

Adanya ciri-ciri yang membedakan novel serius dengan novel populer, tidak ber-arti kita harus mempertentangkan keberadaan kedua jenis novel itu. Tidak perlu pula kita memusuhi keberadaan novel populer, karena novel populer dan novel serius, masing-ma-sing berada dalam kedudukan dan tempatnya sendiri. Yang penting bagi kita adalah pe-mahaman mengenai tempat dan kedudukan masing-masingnya. Dengan pemahaman ini, persoalannya tinggal terserah kepada khalayak pembaca; membaca novel populer akan memperoleh hiburan semata-mata, dan mungkin juga hiburan dengan selera rendah jika novel populer itu tidak baik; dan membaca novel serius, tidak hanya akan memperoleh kenikmatan estetik, tetapi juga pencerahan pikiran dan rasa kemanusiaan.

Dalam konteks apresiasi sastra, tentu saja seyogianya kita memilih novel serius, karena di dalamnya sangat mungkin kita akan memperoleh banyak hal; sangat mungkin pula terjadi beraneka ragam penafsiran. Dengan demikian, terbuka peluang untuk berbe-da pendapat, berargumen, dan menemukan alasan-alasan yang logis. Meskipun demikian, jika kita hendak menggunakan novel populer, maka sepatutnya karya itu termasuk novel populer yang baik. Pemanfaatannya sebaiknya bukan untuk apresiasi, melainkan untuk meningkatkan minat membaca atau sekadar memperoleh hiburan semata-mata.

Selasa, 19 Mei 2009

Aku ingin mewariskan karya

Belajar dari PRAMOEDYA ANANTA TOER, seorang Cerpenis yang mempunyai produktivitas tinggi sangat berpengaruh serta pencapaian estetiknya yang sangat memukau dan menakjubkan.

Pramoedya Ananta Toer (lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 – wafat di Jakarta, 30 April 2006 pada umur 81 tahun), secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.

seorang pengarang yang pantas menjadi calon pemenang Nobel. Ia telah menghasilkan belasan buku baik kumpulan cerpen maupun novel. Kenyang dengan berbagai pengalaman berupa perampasan hak dan kebebasan. Ia banyak menghabiskan hidupnya di balik terali penjara, baik pada zaman revolusi kemerdekaan, zaman pemerintahan Soekarno, maupun era pemerintahan Soeharto.

Di zaman revolusi kemerdekaan ia dipenjara di Bukit Duri Jakarta (1947-1949), dijebloskan lagi ke penjara di zaman pemerintahan Soekarno karena buku Hoakiau di Indonesia, yang menentang peraturan yang mendiskriminasi ketuunan Tionghoa.

Karya-karyanya yang sangat fenomenal membuatnya sebagai orang yang paling berpengaruh di Asia, fersi majalah Time, diantaa karya-karyanya adalah BUMI MANUSIA Buku pertama dari tetralogi populer karya Pramoedya. Baru diterbitkan kembali oleh Lentera setelah lama menghilang.

ARUS BALIK, Sebuah epos pasca kejayaan Nusantara di awal abad 16, MENGGELINDING 1, Buku ini dihadirkan untuk menjadi kilas balik proses kepengarangan Pram yang panjang selama rentang 1947 - 1956. Terdiri dari esai, sajak, cerita serta tulisan lainnya lengkap dengan komedi dan tragedinya. Cetakan terbaru (2005), dan masih banyak lagi.

Inilah mengapa aku ingin mewariskan sebuah karya, karena sesungguhnya karya itu tidak pernah mati.

Tokoh-Tokoh Fiksi Terkaya

15 tokoh fiksi terkaya versi majalah Forbes.

Pembublikasian nama-nama tokoh terkaya tersebut motifasi, bahwa merreka bisa menikmati hidupnya dengan sebuah karya fiksi. dengan bermaksud mulailah menulis sekarang.

Diantaranya adalah:



1. Paman Gober/ Scrooge McDuck

Paman Gober bukanlah keturunan orang kaya. Saat masih kecil ia bahkan sempat menjadi tukang semir sepatu. Namun karena kegigihan dan tentunya keberuntungannya, ia akhirnya berhasil menjadi milyuner. Warga Duckburg berusia 80 tahun ini tercatat memiliki kekayaan sebesar US$28,8 milyar dari hasil tambang dan kegemarannya berburu harta karun.

2. Kaisar Ming/ Ming The Merciless
Penguasa tunggal planet Mongo yang merupakan musuh besar Flash Gordon ini bisa jadi memiliki kekayaan yang tak terbatas jumlahnya. Namun karena sebagian besar masih diragukan karena dianggap kekayaan planet Mongo, maka ia terpaksa harus rela berada di posisi kedua dengan total kekayaan sebesar US$20,9 milyar. Duda berusia 74 tahun yang mendiami Mingo City ini mendapatkan kekayaannya dari hasil teknologi dan tentunya dari perbudakan.

3. Richie Rich
Walaupun baru berusia 10 tahun, Richie Rich yang tinggal di Richville ini sudah menduduki peringkat ketiga jajaran tokoh fiksi terkaya. Dengan jumlah total kekayaan sekitar US$16,1 milyar yang didapatnya dari warisan orang tuanya, Richie Rich sering kali terlalu memanjakan teman-temannya. Misalnya saja saat ia mengusung gunung es dari kutub utara ke rumahnya hanya agar teman-temannya dapat bermain ski es di sana.

4. Mom
CEO sekaligus pemilik 99,7% saham dari MomCorp ini berada di posisi ke-4 jajaran tokoh fiksi terkaya. Dari perusahaan yang bergerak di banyak bidang termasuk pembuatan robot dan senjata ini saja ia berhasil mengumpulkan kekayaan hingga US$15,7 milyar.

5. Jed Clampett
Milyuner yang tinggal di Beverly Hills ini mendapat kekayaannya dari sebuah kejadian tak diduga. Saat, secara tak sengaja, Jed menemukan tambang minyak, maka saat itu pula lah keberuntungannya berubah. Dari hasil tambang minyak dan beberapa bank miliknya, pria berusia 51 tahun ini berhasil mengumpulkan kekayaan sebanyak US$11 milyar.

6. C. Montgomery Burns
Pemilik Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Springfield sekaligus majikan dari Homer Simpson ini mungkin tak terlalu disukai oleh bawahan maupun rekan bisnisnya. Namun dari hasil PLTN Springfield saja, pria berusia 104 tahun yang tinggal di Springfield AS ini berhasil menimbun kekayaan hingga mencapai US$8,4 milyar.

7. Carter Pewterschmidt
Pemilik bisnis media dan perusahaan baja ini adalah teman baik Bill Gates dan Michael Eisner. Dari hasil warisan keluarga dan kedua bisnisnya ini Carter berhasil mengumpulkan kekayaan sebanyak US$7,2 milyar dan berada di urutan ke-7 dari 15 tokoh fiksi terkaya di dunia.

8. Bruce Wayne
Pewaris Wayne Enterprise ini mungkin lebih dikenal sebagai Batman. Keuntungan Wayne Enterprise meningkat drastis saat satelit mata-mata buatannya dibeli oleh pemerintah AS. Dari keuntungan bisnis ini, Bruce yang tinggal di Wayne Manor berhasil memperoleh kekayaan hingga mencapai US$7 milyar.

9. Thurston Howell III
Pemilik Howell Industries ini sempat diselidiki oleh pemerintah karena diduga memalsukan data untuk pajak. Namun setelah tuduhan ini ditarik, nilai saham Howell Industries kembali meningkat dan menghasilkan banyak uang untuk pria berusia 60 tahun ini. Data menyebutkan bahwa pria yang lebih suka tinggal menyendiri di pulau pribadinya ini memiliki kekayaan sekitar US$6,3 milyar.

10. Tony Stark
Pria lajang berusia 35 tahun yang punya reputasi sebagai playboy ini adalah pemilik Stark Industries. Hubungan erat antara Stark Industries dengan pihak militer AS membuahkan keuntungan yang lumayan besar buat pria yang punya identitas rahasia Iron Man ini. Kabarnya, kekayaan Tony mencapai nilai US$6 milyar dan menempatkannya di posisi ke-10 tokoh fiksi kaya versi majalah Forbes.

11. Fake Steve Jobs
Parodi dari Steve Jobs yang asli ini juga termasuk dalam jajaran tokoh fiksi terkaya. Dengan kekayaan yang ditaksir bernilai sekitar US$5,7 milyar, ia berhasil menduduki peringkat ke-11 versi majalah Forbes ini. Sumber penghasilan pria berusia 52 tahun ini diduga berasal dari Walt Disney Co. dan usahanya di bidang teknologi.

12. Gomez Addams
Pria berusia 51 tahun ini memang punya keberuntungan besar. Beberapa investasi yang ditanam pria ini justru menghasilkan harta berlimpah buatnya. Misalnya saja saat ia membeli sebuah rawa-rawa yang ternyata berisi kandungan minyak dan menghasilkan uang dalam jumlah besar buat Gomez. Kabarnya nilai kekayaan pria yang tinggal di Westfield, New Jersey ini mencapai US$2 milyar.

13. Willy Wonka
Pendiri perusahaan permen Wonka ini mungkin memang jenius. Buktinya permen-permen buatannya seperti Wonka Bars dan Everlasting Gobstoppers laris bak kacang goreng. Dari bisnis permen ini saja pria berusia 57 tahun ini berhasil mengumpulkan kekayaan senilai US$1,9 milyar.

14. Lucius Malfoy
Pria berusia 51 tahun ini memang punya reputasi yang sangat buruk. Setelah berhasil meloloskan diri dari penjara Azkaban dan menjadi tak tersentuh oleh hukum, pria ini mulai mencoba untuk menekuni dunia bisnis. Dari hasil warisannya saja pria ini memiliki kekayaan sekitar US$1,6 milyar.

15. Princess Peach
Pewaris tahta Mushroom Kingdom ini tercatat pernah menikah dengan seorang tukang ledeng bernama Mario dari perusahaan Mario Brothers. Wanita berusia 23 tahun yang menderita trauma karena terlalu sering diculik ini memiliki harta sekitar US$1,3 milyar.

15 tokoh fiksi di atas dipilih karena memenuhi beberapa kriteria yang telah ditentukan Forbes. Kriterianya adalah bahwa tokoh tersebut harus benar-benar fiksi, memiliki peran dalam sebuah narasi cerita, dan harus terkenal sebagai orang kaya baik di dunia mereka maupun di dunia nyata. Harta kekayaan masing-masing tokoh ini dinilai berdasarkan nilai kekayaan di dunia mereka yang kemudian dibandingkan dengan nilai kekayaan tersebut pada dunia nyata sesuai dengan nilai pada penutupan bursa saham tanggal 10 Desember 2007.

Semoga ada motifasi dan semangat baru untuk menjadi yang terbaik.
 

Berbagi waktu untuk menulis

Catatan khusus untuk para penulis tentang Bagaimana Mulai Menulis.



1. Menulis. Memang begitulah seharusnya. Karena satu-satunya cara agar bisa menjadi penulis yang baik adalah latihan, latihan, dan latihan menulis sebanyak-banyaknya. Mulailah menulis sebuah jurnal. Tulislah setiap hari. Tulis sesering mungkin.

2. Baca. Bacalah sebanyak-banyaknya buku-buku yang genrenya sesuai dengan ide tulisan kita. Baca juga buku lainnya, tapi jangan terlalu banyak.

3. Pelajari sekitarmu. Ciptakan selalu sebuah bentuk rasa ingin tahu tentang orang-orang di dekatmu atau di luar sana, pada masa sekarang atau di masa lalu. Lalu, pilih beberapa teman yang memiliki pengetahuan berharga untuk diwawancara

Ide Tulisan Anda Macet..??

1. Cobalah membuat semacam tulisan pemanasan.

2. Selalu menulis catatan harian. Setiap mulai membuat naskah, tuliskan hal-hal yang diinginkan, hal-hal yang diragukan atau yang paling membuat Anda tertarik.

3. Anda terbiasa menulis berjam-jam di depan komputer? Jangan lupa, istirahat. Tinggalkan meja. Lakukan hal lain.

4. Lakukan riset.

Semoga, sedikit catatan dapat menambah inspirasi.

Izinkan aku menutup mata

Izinkan aku menutup mata, untuk sementara waktu, karena kalau terbuka maka kesombonganku yang akan bicara, keluh kesahku yang merajalela, keangkaramurkaanku yang menguasai jiwa. Aku takut semua itu terjadi, karena aku anggap semuanya itu belum waktunya. Aku manusia, ingin merasakan apa yang mereka rasakan, gembira untuk kemudian berkarya, bahagia untuk kemudia berjaya.


Tolong izinkan aku untuk menutup mulutku, agar aku tidak berdusta, agar aku tidak banyak bicara, agar aku tidak banyak mengeluh, agar aku terlihat setia.


Tolong izinkan aku sejenak, berhenti menikmati hari, untuk meniti kesalahan dihari-hari yan telah terlewati, agar aku tidak terlalu menyeal dan menyalahkan diri dikemudian hari.


Izinkan aku untuk berhias, merapikan diri menyambut pagi, bersama keriangan dan kebahagiaan.


Izinkan aku untuk tersenyum, tersenyum terhadap kemenanganku, atas janji yang aku tepati, atas diri yang aku hargai, atas jiwa yang aku hormati.


Izinkan aku melangkah, menuju-Mu, mencari ridho-Mu bersama terkasih, cinta dan buah hati.


Izinkan aku membaktikan diri, hanya untuk-Mu... hanya untuk-Mu...


Berilah aku kesempatan untuk meminta disaat aku dalam kelalaian, khilaf dan kepura-puraan.


Sementara waktu terus berjalan... Izinkan aku berjalan bersama waktu-Mu yang telah Engkau ciptan.


Tuhan... Izinkan aku untuk menikmati apa yang Engkau berikan.

Senin, 18 Mei 2009

Langkah jitu menjadi penulis "Best seller"

Menjadi penulis ternyata tidak sulit. hanya kemauan untuk memulai menulis, membaca dan mempublikasikannya. Dibawah ini hanyalah pendorong, tidak lebih, hanya sebagai cuap-cuap tidak untuk menggurui.Sebagai penulis pemula, yang diperlukan adalah:

1. Bisa Menulis.Modal pertama dan yang paling utama adalah "bisa untuk menulis" tidak harus pandai untuk menulis. Hanya sekedar bisa, Kebisaan menulis tidak memerlukan lulusan yang tinggi, sarjana atau apa.. Cukup dengan dengan mengenal huruf-huruf dan dapat memainkan jari-jemari menjalankan pena, itu adalah potensi pertama untuk menjadi penulis.Mulailah belajar menulis...

2. Berani mengakui kebodohan Mulailah Belajar...!!! Ada banyak hal yang harus dipelajari untuk menjadi penulis, karena seorang penulis pemula biasanya kaku dalam menulis. Kurang atau salah pelatakan tanda eja.Yang pertama yang harus dipelajari adalah, belajar tanda baca. Hal ini sangat penting untuk mempermudah logat pembacaan suatu karya, terutama pada karya fiksi, yang harus mengetahui kapan titik, kapan koma, dan kapan harus besar dan huruf kecil. Kedua Belajar untuk merangkai kata. Ketiga, Belajar membaca. HAl inilah yang mendukung seorang penulis mampu menyuguhkan setiap karya-karya berharganya, yang berwawasan, tidak katrok.

3. Mengalah. Egois, adalah penyakit utama yang menjangkit setiap penulis pemula, merasa bahwa tulisannya adalah yang terbaik dan tidak ada yang lebih baik lagi. jadi langkah ketiga "mau mengalah" mempunyai arti mau mengalah pada situasi, mau mengalah pada diri sendiri, menyadari kesalahan dan menerima kritikan terutapa kritikan dari penerbit.Karena penerbir punya segmen pasar tersendiri yang harus dipenuhi. Jadi bersabarlah dan terimalah segala ide, kritik dari mereka, karena mereka tidak akan menjerumuskan anda. buang ke-egoisan dan mulailah bekerja, untuk sebuah karya yang lebih baik.

4. Tidak Mudah Putus AsaTidak ada yang tidak pernah gagal. Semuanya pernah mengalami kegagalan. Tidak ada yang mulus dalam setiap perjalanan, semuanya pasti pernah mengalami rintangan.Artinya jangan putus asa ketika penerbit MENOLAK untuk menerbitkan naskan anda. Anggaplah penolakan adalah awal dari kesuksesan, awal anda melangkah menjadi penulis best seller.Ingat tidak ada sesuatu yang dimulai dari hal yang besar.Lihatlah dan mulailah.

5. Menggali IdeJangan biarkan kejenuhan atau permasalahan membunuh ide-ide kreatif yang datangnya tidak terduga. Jadikanlah setiap permasalahan menjadi ladang inspirasi.untuk menggembangkan kretifitas ide pertama yang harus dilakukan adalah Yakin, terhadap ide yang akan kita kembangkan adalah menrupakan ide yang terbaik, dan harus segera dideskripsikan. Kedua, Ritme penulisan harus benar. artinya mau mengatur waktu untuk menulis atau tau waktu untuk menulis. Tidak serta-merta alias "mumpung semangat" semuanya dituntaskan. Tidak!!, Beri waktu, beri jeda, dan targetkan. Ketiga Mengunci ide. Karena tidak jarang, dalam pertengahan menulis akan banyak ide yang muncu. Abaikan... kembalilah pada ide utama. Anda harus yakin bahwa ide yang anda kerjakan adalah ide yang terbaik.Warning: Berhentilah menulis disaat inspirasi itu menghilang. Istirahatlah dan mulailah mencari inspirasi.

6. Membaca pangsa Pasar. Disamping penerbit, seorang penulis juga dituntut harus mampu membaca pangsa pasar. yaitu untuk mengetahui seberapa jauh minat baca masyarakat terhadap karya yang semisal yang akan dikerjakan. Tapi ingat... jangan karena pasaran ramai, engkau jerumuskan diri menjadi "PLAGIATOR"

7. Menjalin Hubungan Dengan Editor. Ibarat kita mau naik keatas untuk menggapai sesuatu, kita pasti membutuhkan tangga. Artinya jadikan EDITOR sebagai tangga untuk mencapai keinginan.

8. Belajar Dari Pengalaman.
Tulisan yang bagus tidak akan muncul dengan sendirinya, melainkan akan muncul ketika memanfaatkan pengalaman dan melukiskannya menjadikan sebuah tulisan. Tidak harus pengalaman baik yang menjanjikan karya kita bagus, melainkan bagaimana cara kita menggelola sebuah pengalaman untuk kontribusi sebuah karya.

9.Orientasikan pada finansialFikirkanlah orang-orang yang sukses dalam mengarang. Pikirkanlah juga berapa banyak orang yang kekayaannya dari pengarang. Ingat Karangan adalah salah satu ladang kejayaan, ladang yang tidak akan pernah kering dan gersang.

10.Perkenalkan diri anda pada publicPublikasikan diri, bukan menyombongkan diri. Kenalkanlah dirimu, karena tak kenal maka tak sayang. "Mulailah menulis sekarang, karena tulisan anda sekarang mementukan masa depan anda"

Semoga bermanfaat.

Gadis cantik di atas Bus

Gadis cantik diatas Bus, ituah judul yang aku inginkan sekarang. Membuka malamku di sini, sendiri menjaga tawa dalam keheningan. Sudahkan cukup bagiku hanya dengan menikmati sesungging senyum memecah sore?? alangkah naifnya diriku, alangkah konyolnya hayalku. Tiba-tiba mata itu berkedip indah berbinar bagaikan kilatan senja. Duuhhh... !!! Gadis itu terasa sejuk, sesejuk sore dirangkul hangat...

Anak kecil dipangkuannya itu menyita perhatianku, anak kecil yang manis, imut, tampan, ingin sekali aku merangkulnya, membelai seolah-olah dia anakku atau adikku. Senyumnya sekali mengambang...

Suatu detik Bis menghentikan tujuannya. Pandanganpun terputus. Detik inilah keinginan itu terwujud, bukan sebagai anak atau adik, tapi hanya sebagai penolong. Menurunkan Gadis cantik dalam Bus.

Sudah cukup rasanya...

Biarlah anak itu hanya bayangan dalam sanubariku... Aku hanya berharap pada Tuhan, karena dengan inilah aku mendekati Tuhan dan ingat pada Tuhan, seandainya Tauhan mau mengabulkan, doaku sama dengan mereka yang dalam kedamaian.

Sabtu, 16 Mei 2009

Beri Sejenak Waktu Untukku

Berdiamlah sejenak untuk merasakan kekosongan jiwa dan katakan pada dirimu bahwa dirimu ada.

Dalam sebuah kisah atau ketika sebuah kisah itu di tuliskan maka yang terbayang sebelumnya adalah ketakutan. Ketakutan akan hinaan dan tertawaan oleh orang lain. Padahal semuanya itu tidak sepenuhnya benar. Bukan orang lain yang menakutkan,  tapi bayangannya sendiri yang membuat diri kita sering lari ketika dihadapkan pada suatu hal yang menjanjikan perubahan, paling tidak mengajak untuk sekedar berbenah.

Jangan takut untuk memulai sesuatu yang baru, karena sesuatu yang dianggap baru itu tidaklah sepenuhnya baru. Mungkin seratus tahun yang lalu telah pernah bahkan mungkin dilakukan orang lain, itu artinya kita tidak ubahnya plagiator nyata "plagiator of life".

Mulai dari sekarang, atau tidak pernah sama sekali untuk bertindak, jangan karena hanya takut dengan bayangan keberhasilan atau kesuksesan, hari-hari yang indah engkau tinggalka. Ingatlah bahwa sesungguhnya hidup adalah apa yang kita rasakan sekarang dan cita-cita dimasa mendatang, bukan dahulu atau kenangan. Biarlah kenangan itu hilang masa silam.

Kini bangkit dan mulaiah untuk mengerjakan atau paling tidak untuk mengatakan "bahwa inilah hariku" hariku untuk menapaki dunia yang lebih baru, dunia yang lebih berharga dari pada emas permata. Mulailah dari sekarang maskipun berkalungkan seribu penderitaan. Bangkitlah dan mulailah, karena kekasihmu disana telah menunggu dengan dengan senyuman dan pelukan cinta, dengan linangan dan harapan bahagia.

Inilah diriku, dilahirkan untuk mengajak, maskipun terkadang diri sendiri terpaku dalam ketidak perdayaan. Kini aku mengajak untuk sama-sama bangun, membuka telapak tangan untuk menerima anugrah dari Tuhan. Dengan ridho dan cinta-Nya, dengan cinta dan ridho-Nya.

Sabtu, 09 Mei 2009

Mau Sukses..? Mulai sekarang

1. Kerja keras, semangat dan dedikasi. Pemilik usaha harus berkomitmen untuk sukses dan bersedia meluangkan waktu dan usaha untuk mewujudkan bisnisnya.

2. Tuntutan pasar belum banyak tersedia. Sebagai contoh bila di satu tempat hanya ada 1 toko roti, maka toko roti lain kemungkinan akan berhasil, dibandingkan dengan apabila di tempat tersebut sudah ada 20 toko roti. Disini pengusaha dituntut untuk jeli melihat pasar.

3. Kompetensi manajerial. Pengusaha kecil yang sukses biasanya memiliki pengetahuan yang cukup mengenai apa yg harus mereka lakukan. Mereka dapat memperoleh kompetensi melalui training2, pengalaman atau memanfaatkan keahlian orang lain.

4. Keberuntungan. Bagaimanapun keberuntungan tetap berperan menentukan kesuksesan suatu bisnis.

Sabtu, 02 Mei 2009

Suara Klakson...

nenek



Sungguh mengejutkan, suara klakson itu mengagetkanku. Aku ingin marah karena membuyarkan lamunanku.Sudahlah tak jadi apa...

Suatu saat di persimpangan, seorang Nenek, kesulitan untuk menyebrang, atau mungkin dia tidak tau cara untuk menyebrang. Aku lihat dia mondar-mandir, mondar-mandir. Kesana,,, kesini lagi. Kesini,,, kesana lagi. Tak ada yang tau, dia tidak bicara dan tidak bertanya.

Aku jadi teringat suatu ketika, zaman kerajaan - kalau ngak salah - waktu itu hutan masih lebat,,, tidak seperi sekarang yang mengatakan pernah lebat. Tapi kenyataannya, tidak selebat rambut yang tumbuh sebagai hiasan mata.

Sama keduanya mondar-mandir, kesana,,, kesini. Kesini dan kesana lagi. orang itu akhirnya duduk dan bersandar pada pagar jalan, menatap kosong penuh harap, menerawang jauh menembus batas bumi.

Aku sengaja hanya mengawasinya tanpa kata, hatiku hanya berkata sungguh kasihan... tak lama kemudian Nenek itu berdiri, sekarang langkahnya tidak seperti beberapa waktu yang lalu, Dia lunglai lemas, aku rasakan kerongkongan itu terasa kering. Kasihan,,, panas itu telah memanggangnya, melepuhkan harapannya. Sang Nenek teringat suatu ketika, teringat kata-kata Kakek yang selama ini menemaninya setia "Maafkan aku, aku belum bisa membahagiakanmu" itulah kata terakhir sebelum, sebelum akhirnya meninggalkan untuk selamanya.

Nenek itu berusaha untuk meneteskan air matanya, tapi alangkah sayangnya ketika air mata sebagai penyejuk itu telah tiada, telah kering bersama harapnya untuk bahagia, telah mengering bersama janjinya untuk setia, telah mengering bersama keinginannya untuk bersama.

Suatu hari aku kembali, hanya sekedar melihat-melihat panorama beberapa minggu yang lalu. Mataku terbelalak, jiwaku tersentak melihat kejadian itu, aku hanya bisa melongo. Kasihan... kasihan... Nenek itu mondar-mandir sampi sekarang...

Mungkin akan timbul tanya "Kok ngak ditolong sih...kan sudah tau kalau nenek dalam kebingungan dan butuh bantuan" ...Aku hanya akan jawab dengan senyum kecut... yang mengisyaratkan bahwa "Aku tidak tau bagaimana caranya menolong,,, wong, aku sendiri dalam kebingungan yang sama.

Aku hanya punya satu kata "Syukur" karena aku masih muda, maskipun tidak tau ajal menyapa dulu  yang mana...

Biarkanlah...

tetes



Mimpi itu telah membuatku sadar bahwa yang selama ini aku lakukan hanyalah sebatas bayangan nyata yang aku lakukan berulang-ulang tanpa ada pemaknaan, tanpa ada kaidah dan tanpa ada faidah.

Aku hanya mengandalkan rel nasip yang aku anggap itu lurus, selurus rel kereta, yang sebenarnya bengkok, tapi kita tidak merasa.

Cahaya cinta itulah yang membuatku lebih sadar atas mahalnya airmata. Mata yang meneyes tiada kan tertahan dalam buaian malam. Alangkah indahnya dunia, ketika semuanya mau menyapa, walau sekedar ha...

Ya Allah, Berarti selama ini Kau benar benar mengujiku dalam keutuhan jiwa, ya Allah izinkan aku sekarang menangis, meneteskan airmata bahagia untuk Dinda yang ku cinta. Maskipun tiada kata yang patut diucapkan kecuali syukur.

Inilah kata-kata itu "Wahai manusia... Matamu sekali-kali kau tutup dengan bingkai Syukur, pendanglah sesuatu yang terkecil dan jadikan media untuk memandang sesuatu yang lebih besar. Dan hariari ini sebelum kita mengatakan kata-kata yang tidak baik, Fikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berkata-kata sama sekali.

Sebelum kita mengeluh tentang rasa dari makanan, Fikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum  mengeluh tidak punya apa-apa, Fikirkan tentang seseorang yang meminta-minta.

Sebelum mengeluh bahawa kita buruk, Fikirkan tentang seseorang yang berada pada keadaan yang terburuk di dalam hidupnya.

Sebelum mengeluh tentang suami atau isteri, Fikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup.

Sebelum mengeluh tentang hidup, Fikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.

Sebelum  mengeluh tentang buaian anak-anak, Fikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.

Sebelum mengeluh tentang rumah yang kotor kerana pembantu tidak mengerjakan tugasnya, Fikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.

Dan di saat letih dan mengeluh tentang pekerjaan, Fikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan.

Sebelum menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, Ingatlah bahawa tidak ada seorangpun yang tidak pernah melakukan kesalahan.

Dan ketika sedang bersedih dan hidup dalam kesusahan, Tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahawa kita masih hidup "

Mataku aku biarkan berlinang menuju surga kebahagiaan, mencerminkan rasa cinta pada Sang... Inilah hidup yang seharusnya dijalani dengan penuh gairah dan santunan jiwa. Malam kini telah larut, izinkan aku untuk menikmati malamku penuh dekapan cinta berbalutkan kasih dan kebahagiaan airmata.

Putri Ningrat

Putri Ningrat Malamku telah sia-sia terbuang oleh lamunan. Menjajaki nasip bersama para pakar politik, para pakar genetik, para pakar seni grafis ada lagi para pakar pembual ada satu lagi para pakar cinta.

Aku yang terkecil disini duduk bersama tumpukan jerami sama persis ayam yang mengerami. Bagitu hati-hatinya kah untuk sekedar menyapa Putri Ningrat dalam pinangan masa yang agung.

Buaian malam telah lama pudar tergantikan oleh pagi dengan sinarnya yang menjanjikan. Sinar yang begitu indah menawan tanpa goresan luka ataupun kesedihan, hanya cinta kali ini, entah apa yang dicintai, atukan siapa untuk kali ini, tapi siapa...?.

Indah pagi ini, indah bagai purnama tadi malam bersama tawaku bersama putri ningrat, bercanda membual, bergaya bercengkrama, bernostalgia menghiangkan sepi di kemudian hari. Merajut angan menyulam bintang. Mengusir sepi meraih mimpi. Akan kah Putri Ningrat, terus manjadi putri...? Akankah dia suatu kala tidak pudar dimakan usia.

Putri Ningrat kaulah yang selama ini ada dan membayangi merajut cinta dan mengusap air mata.

Huh......

secawan anggur telah menghilangkan dahagaku selama sejuta hari, haus akan cinta, kerongkonganku garing tiada suatu apa, hanya sekedar untuk mengatakan sesuatu mengenai hal itu. Masih adakah budi untukku...

Nyanyian Kosong

kosong



Aku Tak Ubahnya “Debu



Dunia telah menjelma menjadi begitu menakutkan, lebih menakutkan daripada hal yang pernah aku rasakan sepanjang hidupku. huh sungguh perjalanan yang tidak akan pernah aku lupakan. kini sendainya itu akan terulang maka aku mohon jangan.
pinta tiada kata, hanya siulan batin yang siap dengan serpihan tipis sang pembual.

Masyarakat kan dihina, dengan dirinya sendiri, pembicaraan hanya singkat itu pun tanpa kata.
hari ini mendung, tiada yang ku pikirkan, kecuali kekacauan oleh perbuatan semalam. Tapi dengan cinta semuanya sirna.

Sudahlah semuanya telah berakhir. kecuali yang merindukan sebuah kedamaian, atas harga diri sebagai manusia sejati.

Astagfirullah

Berbagi katapun tak bisa ketika jiwa telah terkuasai cinta. hanya getar yang semakin mengelinding deras dalam degupan jiwa. Aku biarkan Anyelir melambai sebagai tuangan hati, keresahanku, kegundahanku hanyalah terjawab semu.

Astagfirullahil ‘adhzim……., aku tidak mengharap ini hanyalah sebuah kata yang tiada arti, aku ingin suatu saat berarti, untuk mewujudkan cinta sejati. dalam hayal aku sering berharap “jadikan dirimu sebagai bara” yang membakar setiap kesombongan dirimu atas kesombongan cinta, atas asa yang tiada kan pernah terselip dalam rona asmara. Inilah jiwa yang berkata, adakalanya cinta ini bisu, kecut hampa tanpa harap.

Eleng-eleng yo siro menungso,,,,,, onoto ono supoto,, selagini nang njerone dodo gumrigah ananging cipto…..
kita tak ubahnya hanya bayangan yang suatu saat hilang karena datangnya cahaya yang lebih terang, yang tiada kan mampu menahan…..
sudilah kiranya engkau mengulurkan tangan untuk mengatakan setia.

Aku lambaikan tangan, petanda suatu saat kita akan bertemu.