Rouftracal Dot Blogs Post

Senin, 24 Oktober 2011

Langkah Memulai Menulis Cerita

Untuk memulai sebuah tulisan (cerita) memang tidak segampang menyibak gorden jendela. Malah banyak yang bilang bahwa memulai sebuah tulisan itu sulitnya bukan main. Itu bisa dibuktikan jika kita menghadiri acara workshop kepenulisan. Di saat sesi tanya-jawab, pasti ada saja seseorang yang mengangkat tangan kanannya untuk kemudian bertanya, “Bagaimana sih caranya memulai sebuah tulisan?” Padahal, kalau dipikir-pikir, buku-buku tentang kepenulisan itu sudah banyak yang diterbitkan. Arswendo sudah menulis "Mengarang itu Gampang", A.S Laksana juga sudah membuat buku Creative Writing, dan masih banyak lagi buku-buku yang serupa dengan itu, tapi—apa boleh buat—sepertinya permasalahan tentang mengawali sebuah tulisan itu memang tidak akan pernah hilang sampai kiamat datang (hehe. Lebay!).

Baiklah, untuk menghindari kalimat basa-basi, di bawah ini akan saya paparkan lima langkah sederhana dalam memulai sebuah tulisan (cerita).


1. Mulailah dengan Dialog

“Hanun, pergilah ke rawa di seberang Bukik Barisan. Biasanya di sana tumbuh aneka bunga. Petiklah setangkai dua tangkai untukku. Rasanya, penat ini terlerai bila memandang bunga-bunga,” pinta Kakek. Matanya mengedip-ngedip pelan, kulit lisutnya mengernyit dan lewat sorotan matanya, Kakek tidak lagi seriang dulu. (Bunga dari Peking, cerpen Zelfeni Wimra)

2. Mulailah dengan Deskripsi Tokoh
Lelaki tua itu masih berbau rusa dan kaus oblongnya yang lusuh masih menebar bau pembakaran yang tidak sempurna. Sangit.... (Kitab Salah Paham, cerpen Puthut EA)

3. Mulailah dengan Berita di Koran atau Televisi
Jumlah anak balita kurang gizi di Indonesia sekitar 23 juta. Dampak kurang gizi adalah terhambatnya pertumbuhan otak dan fisik. Begitu melewati usia dua tahun tanpa asupan gizi seimbang, kondisinya tak dapat diperbaiki lagi. Citra CT-scan akan memperlihatkan gambar otak yang tidak padat alias otak kosong.... Bersiaplah memanen generasi yang hilang. Tidak lama, cuma dua dasawarsa lagi. (Kompas, Selasa 11 Oktober 2005)

Rombongan sirkus itu muncul ke kota kami.... (Sirkus, cerpen Agus Noor)

4. Mulailah dengan Adegan
Ia menulis puisi panjang di depan sebujur tubuh kaku istrinya. Tidak ada kata-kata; mati, kematian dan airmata di dalam puisi itu, yang adalah buah apel, meja makan, dan yang paling banyak adalah: usaha mati-matian. (Kematian Seorang Istri, cerpen Puthut EA)

Seminggu setelah perceraiannya, perempuan itu memasuki sebuah kafe, dan memesan Rembulan dalam Cappucino. Ia datang bersama senja, dan ia harus menunggu malam tiba untuk mendapatkan pesanannya. (Rembulan dalam Cappucino, cerpen Seno Gumira Ajidarma)


5. Mulailah dengan Seting Tempat

Dalam satu badai rasa jemu, ia terdampar di taman dan duduk di kursi sambil memakan jagung rebus begitu perlahan, sebutir demi sebutir, seolah di butir terakhir ia akan bertemu kematian.... (Cinta Tak Ada Mati, cerpen Eka Kurniawan)

Dari jauh sudah terlihat pohon itu berdiri tegak di tengah padang. Setelah berhari-hari menempuh daerah yang kering kerontang dan terpanggang matahari, pemandangan yang rimbun seperti itulah yang sekarang kubutuhkan.... (Sebatang Pohon di Tengah Padang, cerpen Seno Gumira Ajidarma)

Selesai! Sebenarnya masih banyak lagi tips untuk memulai sebuah cerita. Tapi, di sini saya hanya menampilkan lima cara saja dulu. Cara yang lumayan sering digunakan dan insya Allah mudah dipelajari. Silakan teman-teman coba semuanya, satu persatu. Dengan kita menguasai beberapa cara mengawali tulisan (cerita), semoga kita semua terhindar dari pembukaan cerita yang klise dan sudah ketinggalan zaman seperti, “Pada suatu hari....”, atau “Matahari pagi bersinar indah sekali....”


OK. Sekarang PEJAMKAN MATA dan MULAI bercerita

Download Counter Untuk Blogger « Tutorial blog dan SEO

Download Counter Untuk Blogger « Tutorial blog dan SEO

Jumat, 21 Oktober 2011

Melukis Fajar dengan Cinta

Tak pernah terbayangkan kalau merpati itu dikemudian hari akan bisa terbang kembali, sayapnya yang patah itu kini telah pulih, itupun akibat perawatan serius dari seorang dokter hewan, maskipun usianya masih 15 tahun. Julukannya sebagai dokter hewan, hanyalah kebetulan saja, bukan dia sebagai lulusan sarjana kedokteran, atau perawat yang biasa merawat hewan peliharaan. Dia hanyalah seorang bocah yang beranjak dewasa, yang baru saja mengenal cinta.

Senyap suara adzan terdengar dikejauhan, suara itu jugalah yang memaksa Syarif untuk membuka matanya, indah nian lantunan itu, mengalir lirih menelusup dinding-dinding telinga mengetuk gendang dan membangunkan penjaganya, Subhanallah, suara iru juga yang kini menghipnotisnya, untuk segera beranjak dan memenuhi panggilan sang penguasa mimpi.

Tak satupun kerutan manja akan buaian mimpi diturutinya, dia meninggalkan pelukan dan belaian hangat selimut tebal, untuk menjeburkan diri pada telaga rohmat, telaga yang penuh dengan kasih sayang, telaga yang tidak akan pernah kering, telaga yang akan selalu memberi kemanfaatan pada setiap jiwa-jiwa yang kering yang membutuhkan siraman.

Disinilah letak telaga itu, tepat dikaki malam, di ujung fajar, kalau pas ada berkah pastilah akan ditemani temeram cahaya rembulan, bak pidadari yang tersenyum selalu mengharapkan kedatangan dilain waktu, menyapa, menyambut,sekedar mengulaskan senyum demi atas nama pertemuan.

Heniiing, dingiiin, menemaninya dalam kecupan pertama yang bertopangkan jemari menahan airmata, dada sesak menahan penyesalan atas dosa, akankah masih ada Syarif, ketika Syarif itu kini telah tiada??

Syarif, hanyalah sebuah julukan, yang diperuntukkan bagi mereka yang selalu ingin mendekatkan dirinya pada sang pencipta. Setiap detiknya Syarif tidak pernah tiada, dia akan selalu ada mengabdikan dirinya pada sang penguasa, merindukan cinta, merindukan senyum untuknya, merindukan kasih-Nya, merindukan sayang-Nya.

Syarif yang dulu renta, kini telah menjelma pada pemuda tampan, bedagu lonjong dan bermata coklat, beralis tebal dan bercambang sedang, rambut hitam bergelombang ikal, bebadan kekar dan berdada lebar, Sungguh sentuhan dari sang pemilik semesta yang maha sempurna.

Dada Syarif kembang kempis menahan sakitnya cobaan, kini dia berada dirumah sakit, untuk sekedar menerima ujian dari Tuhan. Syarif cepatlah sembuh, seribu Malaikat telah mendo'akanmu, seribu senyum telah menunggumu, cepatlah kau sadar, karena dunia akan kiamat seandainya kau pergi dengan membawa kesedihan dihati umat.

Syarif hanya diam, matanyapun hanya mampu untuk terpejam, walaupun demikian, nafasnya masih teratur melafalkan Allah... Allahh... seribu bibir telah mengecupkan sayang, mengiringkan lafal-lafat Allah, begitu juga seribu mata telah merelakan airmatanya mengantarkan kepada pangkuan, dan seribu tangan telah rela mengantarkan nafas-demi nafas untuk menemui Robnya.








Rabu, 19 Oktober 2011

Maaf dan Maafkanlah.


“Jadilah PEMAAF dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (Surah al-A’raf [7]:199)

Sungguh indah perkataan tersebut. "jadilah PEMAAF".
Tidak semua orang mau dan mampu untuk memaafkan dirinya, apalagi orang lain, sangat sulit, apa lagi seorang hamba itu pernah disakiti atau didholimi.

Dari ayat diatas. saya - sebelum menjadi hamba yang hidup dengan sesungguhnya - ingin menjadi orang yang pertama menjadi PEMAAF, maka dari itu "segala kesalahan, khilaf baik karena kehadiranku menyebabkan orang lain bersalah padaku atau karena murni kesengajaanku baik ingat maupun lupa, baik sengaja maupun tidak disengaja baik orang tersebut masih hidup atau sudah tiada, baik yang sehat maupun yang sakit baik yang kenal tidak kenal dan atau orang yang dengan sengaja menyakitiku, yang mau meminta maaf maupun yang dengan rasa sakit hatinya tidak mau meminta maaf.

Dan semuanya penghui jagad, maka hari ini dengan kesaksian yang hidup dan yang menghidupkan; saya MEMAAFKANNYA dan tidak ada lagi kesalahan bagi umat dihatiku.

Begitu juga sebaliknya. Dari ujung rambut sambai ujung kaki, seandainya apa yang aku perbuat,apa yang aku katakan baik sengaja maupun tidak sengaja baik karena orang lain maupun murni karena sakit hati.

Hari ini, dari hati yang paling dalam, aku minta MAAF.

“…dan hendaklah mereka MEMAAFKAN dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An Nuur, 24:22)

Wahai saudaraku, teman dan lainnya penghuni alam semesta.
Indah hati ini, karena beban telah tiada.
Izinkan aku untuk memulai, melangkah, merajut mimpi menjadi berkah.

Dan semoga saudara semua penghuni alam raya juga diberi keberkahan.

Trimakasih.
Salam Untuk Semua.

Minggu, 16 Oktober 2011

mulai berbenah

hari ini mulailah melangkah meraih impian masa lalu yang pernah terimpikan dalam lubuk.

Ada kalanya rasa trauma masih membayangi, namun semua itu kalau tidak segera ditepis maka lama kelamaan akan menjadi momok bagi diri kita sendiri.

Maka dari itu mulailah sekarang untuk berbenah, jangan tunda, karena penundaan hanya akan menyebabkan penyesalan untuk selamanya dan bahkan akan menjerumuskan ke jalan yang sesat.

Mulai berbenah.