Rouftracal Dot Blogs Post

Senin, 15 Juni 2009

Selamat Tinggal Kawan...

Salam pamit dariku


Kawan...


Tak akan ku biarkan air mataku menetes,,, walau berat.


Tak akan ku biarkan jiwaku resah,,, maskipun harus berpisah.


Tak akan ku kecewa,,, walau sejatinya luka.


Aku akan berusaha tersenyum,,, maskipun tertahan.


Aku akan terus menatap,,, maskipun kosong.


Tuhan izinkan aku berpisah pada semua, berucap pamit demi kebahagiaan. Aku rela maskipun Kau melemparkanku ke jurang gelapmu kembali, asal jangan Kau pisahkan aku dengannya yang telah terikat teman didagunya. Demi kata-kataku yang tertunda, izinkan aku berdo'a. Jadikan dia sebagai kekasih-Mu, disisih-Mu yang kau cinta, dengan kata-kata dan sumpah setianya, dengan lantunan dan kasih sayangnya, dengan senyum dan air mata.


Untuk Kawanku yang telah mau singgah.  Slifaer (Setan99) maaf,,, ane blm bisa meng-add pic-mu di MyBlogLog, ane hanya bisa katakan trimakasih telah mampir, walau akhirnya dengan penuh sesak harus berpisah. reallylife "semoga jalinan persaudaraan dan silaturahmi ini tidak terputus" maaf kawan, tapi demi persaudaraan aku ucapkan Selamat Tinggal, untukmu, untuk semua yang berkenan singgah di obrolanku. filarbiru, trimakasih, atas semuanya, terimakasih juga telah memasukkan blog-ku, sebagai Blogroll-mu, maskipun kau tidak suka akan kata-kata cintaku, tapi itu bukan mauku, tapi ucap hatiku yang berlalu, mengiringi suasana kepingan hati yang tersisa. Untuk insanmuhamadi aku teringat pada kata-katamu "wah..wah… saya kira ni blognya mbak rindu, ternyata pengagumnya, sampai2 semuanya sama persis. atau jangan2 ini akal-akalannya mbak rindu?? ah, saya terlalu berprasangka..." insan inilah gambaran rindu yang sama, ingin aku menyapa Tuhanku dalam media yang sama, tapi apalah daya, Tuhan pula yang tidak menginjinkanku untuk serupa. Maka sekarang aku minta pamit, demi sebuah talian saudara, agar jangan sampai terputus. Mungkin dengan begini aku bisa melihatnya tersenyum, dengan senyuman tulus dan bahagia, salam selalu dariku bila kau menyapa.


Untukmu, deeedeee trimakasih mau mampir, dan akhirnya harus berakhir, do'amu semoga dikabulkan, semoga dirinya segera kembali dari tepiannya, dan menyapa kita dengan penuh cinta, aku pergi untuk sebuah janji. do'akan aku supaya Tuhan mempercayakan kekuatan memenuhi janji kepadaku, aku ikhlas walau dengan derai yang tertahan. Hai sunarnosahlan, kau benar, kadang menangis justru sangat dibutuhkan, aku sekarang merasakannya dan sangat ingin melinangkan airmata, tapi karena janjiku, aku usahakan untuk tidak menetes, demi sebuah rindu. trimakasih engkau yang telah mau menambahi komen-ku. indra, Semoga kau selalu disayang oleh-Nya, inilah do'a singkat dariku, do'a perpisahan dan juga do'a harapan semoga ada jalan untuk Tuhan mempertemukan, biarlah kutahan rindu, untuk rindu yang lain, trimakasih telah mau berbagi. Trimakasih nurrahmanarif, maskaipun kau mengataiku MELO, tapi itu lah salam untukku, itulah yang mampu membuat terlihat garis senyumku, aku lebih suka dikatai orang asal jangan mengatai teman-sahabat-saudaraku, komenmu yang singkat adalah semangat bagiku yang sangat, tapi karena suatu sebab akhirnya aku harus merelakan teman-teman terkasihku, maafkan aku shobat.


Haluuuu, omiyan , andai nasip kita bisa ditukar,,, akan ku tukar dengan nasip yang lebih baik, pun seandainya aku baik, akan ku tukar dengan nasip orang yang lebih membutuhkan, trimakasih, karena kehadiranku, kau telah teringat temanmu, "Rindu" ya, atau Ade, atau Robi'ahku, ah aku hanya asal menebak, aku juga merindukannya, semoga kita dipertemukan walau dalam media yang berbeda, itulah yang menjadi harapan satu-satunya. cantigi, izinkan aku berdialog dengan matahari? bolehkah?. Kini aku ingin mengadu pada matahari, pada rembulan, pada bintang pada semua yang kiranya mau jadi pengaduan. trimakasih udah mau berkunjung. abifasya trimakasih shobat atas bujuknya, atas pintamu untuk tidak menangis, aku tidak akan menangis, aku hanya berpisah demi jiwa yang mengharapkan cinta, izinkan aku bertemu lain waktu, mambujuk kembali untuk tidak menangis, skali lagi trimakasih. Insya Allah aku akan sering mengunjungimu. walau kita tak saling ketemu.


syelviapoe, trimakasih atas engkau mau mengenalku, perkenalan yang akhirnya harus ada perpisahan. Ikutkan aku menemui Rob-mu, dengan kapas rindumu... thepenks, kau benar akhi,, ada senang ada sedih..  semuanya saling beriringan dan saling melengkapi, alangkah indahnya kalau ada yang mau diajak berbagi, aku merindukan disetiap kata yang keluar dari teman-teman setia, tapi kini kerinduan itu harus aku kubur bersama diri yang terluka. Eko Widiyanto, kau menggunggapkan sesuatu yang indah-indah, tiada kata-kata yang indah kecuali sanjungan, tapi sanjungan yang indah hanyalah apabila disandarkan pada sang pemilik keindahan, trimakasih Eko udah mau berkunjung, walau hanya sekejap dan akhirnya kita berpisah. Muhamad Azam, walau sedih untuk kukatakan, tapi aku harus kuat untuk melakukannya. ibarat titah yang harus aku emban. Akhi,, aku tidak akan melupakan kata-katamu, sebuah perkenalan, ikatan persaudaraan, kedamaian dan kehidupan, semua itu terasa indah, dulu yang pernah kau tulis, kini biarlah tinggal kenangan. Aku ucapkan salam untukmu, salam berpisah untuk kehidupan yang lain. Untuk yang terakhir Ojie trimakasih atas engkau telah memberi semangat, sebagai kata pamit aku ingin menyunting kata-katamu "Sebodoh-bodah manusia adalah yang tidak mampu memperoleh kawan-kawan untuk dirinya, namun yang lebih bodoh lagi ialah yang menyebabkan perginya mereka yang telah diperolahnya" semoga kata-katamu, memberi semangat baru dihatiku.


Selamat tinggal Kawan


Usah kau menangis kawan, Aku tidak meninggalkan dunia, karena aku belum siap menemuinya, belum siap untuk merasakan sakitnya pecutan sang Malaikat, sedangkan aku masih berlumuran noda, tetaplah aku didunia untuk menahan sakitnya pecutan jiwa dan rasa yang merindu. Maafkan aku kawan, hanya maaflah, yang mampu mencuci melepaskan noda. Izinkan aku menutup mata, karena dengan demikian aku bisa melihat dosa-dosa dan meminta ampun kepada-Nya.


Kini aku hanya bisa berucap pada suara seruling bambu yang menghilang, mengadukan nasip dan menyeka airmata. Tuhan beri waktu sejenak untukku, untuk menerima perpindahan nasip yang Engkau janjikan, untuk melihat gadis cantik diatas Bus kembali, untuk menunaikan suatu janji, yang sedang Kau ujikan.


Astagfirullah,,,  ada yang terlupa, walau aku tak ubahnya debu, aku ingin perpesan satu untukmu "usah kau rendahkan dirimu, walau dihadapan Tuhan karena pasti ada sisi yang mesti dan harusnya disyukuri daripada mencaci mengingkari nasip yang telah diberi.


Sekali lagi aku ucapkan terimakasih untukmu kawan, karena dengan bersyukur kita bisa merasakan nikmat yang lain, untuk teman-teman, sahabat, saudara yang belum sempat menyapa, maafkan aku, karena aku yang belum sempat untuk mengunjungimu. Izinkan aku menyulam rinduku di belahan karya-karya indahmu.


Untukmu perempuan dikebun hikmah, Robi'ahku, juga putri ningrat yang pernah aku kenal, mungkin karenaku engkau menangis, dan kepergianku semoga menjadi salah satu penenang jiwamu, sekali lagi  maafkan aku, biarlah aku hanya mendengarkan lantunan ayat-ayat al-Quran yang kau baca atau ikut mendengarkan asmaul husna disetiap deru laju mobilmu, ataupun hanya sekedar mendengarkan suara klakson mobilmu, itu sudah cukup, apalagi mau menambahi senyum, sebagai amal disetiap pagimu untukku. Dan trimakasih, engkau telah mengenalkan Tuhanku, maskipun sekarang harus terancam untuk kembali.


Aku akan selalu mengingat kata-kata mu, dan izinkanlah aku untuk mengucapkannya "Jika kesedihan datang dan duka lara menggunung, ucapkanlah...  “La illaha illa ALLAH” Tiada Tuhan selain Allah, Dialah yang Maha Mengambil dan yang akan mengganti, entah kapan, entah sempat merasakan. Dia jugalah yang Maha Memisahkan disetiap pertemuan, juga Maha mempertemukan di setiap perpisahan.


Inilah salam perpisahan dariku, dengan satu harapan - supaya kita dipertemukan, dan janganlah kita saling memutuskan hubungan kekeluargaan, persahabatan, sekanca dan sekawan.


Sudah, Trimakasih,


Salam dariku untuk semua "Rouf tracal"

Sabtu, 13 Juni 2009

Shobat. . . . . . . . . . . Dia Bukan Aku!

Dinginnya malam mengantarkanku terjaga.


Ingiiiin aku mengantarkan pagi nanti dengan senyum dan sambut mesra. Di pagi dingin ini aku ingin mengatakan bahwa DIA bukan AKU, sebagai kata awal permintaan maafku.


Untukmu Shobat,,, izinkan aku memadu kasih lewat media yang sama. Jangan sakiti dia, jangan tuduh dia, jangan katai dia, jangan anggap dia lari dari penepiannya. Aku yang salah karena diriku, aku yang menggaguminya, merindukannya sampai aku gila.


Shobat,,, Aku ingin menguasai dunia, tapi dia ingin menguasai hatinya, dia sebagai Robi'ah dimataku dan al-Adawiyah dihatiku. Tapi aku, hanya sebagai onggokan yang mengganggu.


Shobat,,, Dia mencari cinta-Nya, tapi aku mencuri cinta Dinda. Dia adalah dia, Shobatku. Dia juga tidak menjelma menjadi aku, dia tidaklah aku.


Shobat,,, Izinkan dia menepi, untuk selanjutnya menyambut kalian dengan hati damai, dengan hati yang selembut salju, hati yang kita rindukan.


Maskipun hati ini pedih karena penepiannya, tapi aku ikhlas, ridho, untuk dia menjadi Robi'ah yang agung. Shobat,,, dari hati, sekali lagi aku katakan, "dia adalah dia, dia bukan dan tidak menjelma, apalagi menjadi diriku yang gila", kita sama-sama ingin belaian-Nya, tapi kayaknya aku sudah tidak pantas lagi untuk dibelai, karena aku melalaikan-Nya, waktu Dia [Tuhan] ingin membelaiku. Sekarang aku ingin kembali, aku merindukan-Nya, tapi aku tidak tau jalannya. Aku takut Dia [Tuhan] marah, maka aku beranikan diri untuk menautkan hati ini pada Dinda, untuk sekedar menyapa-Nya dalam media yang sama.


Maafkan aku, Robi'ahku.


Maafkan aku Shobatku. Ini kesekian kalinya aku minta, jangan sakiti dia, karena akulah yang seharusnya disakiti, jangan katai dia, jangan jadikan aku yang dungu sebagai jelmaan Robi'ah yang aku rindu. Izinkan dia menepi, untuk menyapa kita dengan penuh damai.


Inilah aku, diriku, bersama jiwaku yang  kosong, yang butuh tautan untuk mencari cinta-Nya.


Shobat ,,, Sampaikan salamku padanya, jika antum semua meluangkan sedikit mata untuk melirik deretan coret berharap makna.


Salam dariku untuk semua, Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya, dan suatu saat kita dipertemukan dalam media yang berbeda.

Kamis, 11 Juni 2009

Usah kau menangis Sayang...

Seribu hati telah merasa kehilangan


Kehilangan senyum dan canda kata, bercanda penuh hikmah dan air mata, penuh cinta dan rindu mesra, Tuhanlah yang mampu menyatukan segalanya, menyatukan hati yang merindukan belaian kata terajut cinta.


Kini juga banyak mata yang merelakan airnya untuk menetes, mengiringi penepiannya, menyambut kebahagiaan yang dicari. Tiada yang tau kapan akhirnya bertemu, hanyalah angan sebagai penyambung harapan, serta jiwa tulus yang mengharapkan ujung penantian. Jangan terlalu lama kau tinggalkan, karena masih banyak jiwa-jiwa tulus yang mengharapkan belaian, karena masih banyak jiwa-jiwa gersang yang menginginkan siraman, maskipun hanyalah Tuhan yang mampu untuk mengembalikan jiwa gersang.


Usah kau menangis Sayang, karena masih banyak do'a yang menginginkanmu tersenyum, mereka semua ingin sapamu, menginginkan atas candamu, menginginkan atas rindumu. Memintakan pada-Nya untukmu tabah, dan sabar atas segara musibah.


Aku yakin kau hanya menepi, bersandar menghilangkan lelah, yang nantinya akan menyambut kami dengan penuh cerah.


"aku akan selalu menunggumu, menunggu sampai dipenghujung asaku…" Aku tidak tau kapan asa itu akan kunjung datang. Bisa besok, nanti bahkan kali ini.


Ucapanmu sangat menyejukkan, kau berucap "terima kasih sudah mau menunggu saya, tapi saya tidak tahu dimana ujung tepi yang saya cari jadi mungkin akan lama pencarian ini terima kasih dengan segala kerendahan hati saya". aku merenung saat kata itu terucap.


"... tapi saya tidak tahu dimana ujung tepi yang saya cari..."


Semoga kamu  lekas menemukannya Sayang, menemukan tepi yang penuh dengan Ridho Illahi, bersama senyum dan kasih sayang-Nya. Aku tidak banyak berkata. Aku hanya berdo'a, semoga engkau tidak terlena dan asyik dalam penepian karena-Nya, karena masih banyak yang menginginkan tawa, canda, tangismu untuk menghibur mereka.

Rabu, 03 Juni 2009

Untuk dan Mari Dukung Pembebasan Ibu Prita Mulyasari


Bismillah. Alhamdulillah.Semoga Bu Prita Diberi kesabaran dan segera diberi keadilah oleh Tuhan.

Sungguh tragis. Suatu kisah penganiayaan mental dan kejiwaan. mari kita mengaca pada diri "Siapa yang berkuasa dialah yang menentukan segalanya"itu lah yang terjadi sekarang.
Dari kisah tersebut seharusnya Ibu Pritalah yang mendapatkan keadilah dari pembohongan atau diskriminasi terhadap dirinya, bukan malah sebaliknya. Itulah efek daripada rakyat jelata. Kata orang jawa "Kalah Stan".Ini dariku: "Semoga Ibu Prita Secepatnya Mendapatkan Keadilan" Inilah isi email yang menyebabkan Ibu Prita Mulyasari dijebloskan kepenjara oleh RS Omni International :

Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,

Prita Mulyasari

Alam Sutera

prita.mulyasari@yahoo.com

081513100600

Mari kita coba mengetuk hati untuk melihat ketidak adilan yang dipermainkan